Takjub benar aku, mendapati kantor baruku sangat riuh. Apa tiap pagi selalu begini, karena banyaknya karyawan yang diterima? Yang pasti tempat parkir yang kemarin terlihat rapi hari ini berceceran tidak semua masuk ke pelataran parkiran. Motorku pun akhirnya melepas lelah di luar pagar.
Dengan rasa percaya diri tinggi aku menerabas menelusup di antara orang-orang yang sibuk berdiskusi dengan rombongan kecilnya. Mbak Titin belum kelihatan, tetapi aku menemukan teman seangkatan yang juga sedang berdiri bergerombol. Tanpa menyapa siapa pun aku segera masuk ruang kantor.
Jleg, langkahku terhenti seketika. Aktivitas kantor terdamba tak tertangkap mata. Para karyawan berseragam biru duduk-duduk tidak pada tempatnya. Mereka ada yang diam mematung, ada yang mengobrol dengan semangat berapi-api, ada yang bercucuran air mata. Jadi kapan kantor akan mulai beroperasi?
Dua detik kemudian aku sudah membalik badan dan segera bergabung dengan teman satu angkatan yang belum aku kenal. Berdiri menjajari salah satu di antaranya mendengarkan percakapan-percakapan serius yang teruntai, menunggu saat tepat menyapa salah satunya. Dan kesempatan itu tiba manakala seorang yang berkulit hitam manis menatapku dengan senyum tipis.
“Eng... apa kantor belum mulai aktif? Jam berapa sih bukanya?” tanyaku nyengir.
“Mulai hari ini kayaknya tidak akan buka,” sahutnya dingin.
“Loh?”
“Mbak karyawan baru juga ya?”
Aku mengangguk dengan nada senang.
“Cari kerja lain saja, Mbak,” celetuk si rambut kriting yang tiba-tiba antusias terhadapku.
“Mang kenapa?”
“Belum tahu pasti, tapi yang sedikit kudengar dan tangkap. Bos Batramas kabur dengan membawa uang nasabah.”
“Apa?”
Kilat terasa menyambar dan menembus jantungku. Ada desir yang sedikit melunglaikan tulang sendi. Aku bersandar ditembok termangu-mangu.
“Kemarin Mbak invest berapa?” tanya si imut berkumis.
“Dua juta lima ratus,” kataku dengan suara mirip tikus terjepit pintu.
“Ada hitam di atas putih? Kita bisa menuntut pengembalian,” kata si Hitam Manis.
“Menuntut siapa?” sahut si keriting.
“Manajernya.”
“Yun!” Seseorang yang suaranya tak asing datang tergopoh-gopoh. “Kucari dari tadi, bosnya kabur kamu tahu.”
“Iya, ini juga sedang membahas,”
Mbak Titin tersenyum pada tiga pria yang berdiri dan tadi mengobrol denganku. Sigap, dia pun menyodorkan tangan pada ketiganya. Sungguh membuatku sadar kami belum berkenalan secara resmi.
Ternyata setelah saling tahu nama membuat percakapan kami semakin hangat. Si keriting bernama Sika, si hitam manis Yoyo, dan si imut berkumis Heru. Kami asyik berbincang tentang segala kemungkinan meminta balik uang, upaya pencarian dan menghimpun info dari mulut lain.