Aku dan Kampung Nan Jauh di Mata
Rasanya aku harus kembali pada hidupku, masa depanku.
Aku mendapat pesan dari agen kerja yang mengabarkan kalau ada lowongan pekerjaan di Yogya. Setengah memaksa aku mohon izin untuk mendatangi lahan kosong itu. Dengan berat hati bapake-mamake melepasku.
Aku yang buta Yogya kembali diantar bapake hingga ada yang menjemput di terminal bus Yogya. Bapake langsung pulang. Agenku kemudian yang mengantar ke tempat kerja. Dari terminal, aku dan Mas Angga naik angkot sampai di kawasan dekat kampus UGM.
Rumah makan yang menyajikan aneka makanan cina terletak di pinggir jalan besar bernuansa merah dengan lampion bergantungan. Pada dinding sejajar pintu masuk terdapat deretan pohon bambu kuning yang seakan menguatkan kesan bahwa kita sedang berada di Negeri Tirai Bambu.
Seorang perempuan bermata sipit, berhidung mungil tetapi dengan porposi yang indah, juga berkulit bak pualam suci menyambutku dengan tatapan menyelidik. Perempuan ini kutaksir umurnya tiga atau empat tahun di atasku. Dia ini pemilik Restoran Cay Cay itu.
“Ayo sini saya tunjukkan kamarmu,” katanya sambil jalan. Sungguh tanpa basa-basi. Dan aku menguntitnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Badanku yang lelah selepas perjalanan selama hampir lima jam membuatku tak bisa berpikir jernih. Aku menurut saja. Di belakangku Mas Angga masih ikut mengawal.
Kami melewati selasar pendek ke sebelah kanan. Pemandangan sebelah kiri berupa taman terbuka dengan rumput jepang memenuhi seluruh pelataran. Dan setelah taman itu terdapat sebuah bangunan yang tampak megah mirip akuarium raksasa. Maksudnya rumah itu, mengekspos bagian dalam rumah dengan tangga warna hitam yang melingkar-lingkar.
“Ini kamarmu. Bersama teman kerjamu yang lain,” tunjuknya di ambang pintu kamar yang terbuka. Hampir saja aku menabrak Ce Cathrin yang berhenti mendadak.
Aku berjalan melewatinya, lalu melongok ke dalam. Sebuah kamar berukuran 4 x 4 meter berisi dua ranjang tingkat, satu lemari memanjang mirip loker dan meja bentuk persegi panjang penuh dengan aneka barang.
“Jiah!” serunya ke arah rumah makan yang kemudian berhasil mendatangkan seorang perempuan yang umurnya kurang lebih sama dengan Mbak Titin. Rambutnya dicepol rapi dengan pita merah menjuntai. Kantung matanya, menunjukkan kalau dia seperti kurang asupan tidur.
Setelah melihat perempuan itu makin mendekat dengan tergopoh-gopoh. Ce Cathrin kembali bicara padaku.
“Ada empat orang termasuk kamu. Oh ya, nanti HP-mu serahkan ke saya. Peraturan di sini karyawan tidak boleh pegang HP selama bekerja. Tidak saat kerja maupun di kamar. Takutnya pada nyuri SMS kalau HP tetap di tangan. Kerja tidak maksimal. Sudah paham? Soal pekerjaan biar Jiah yang menerangkan nanti,” katanya tanpa bisa di-stop dan langsung pergi tanpa sempat aku berucap ya, atau malah menolak.
“Kerja yang baik ya,” kata Angga menyusul pemilik rumah makan itu.
Aku segera mematikan ponsel, memasukkan ke dalam sarungnya. Perempuan yang datang menyusul mempersilakan aku masuk sambil memperkenalkan dirinya. Basa-basi tanya jawab, terkait nama, asal kota terlantun sebagaimana kalau kita ingin mengenal seseorang. Selanjutnya Mbak Jiah memberiku seragam kerja berupa pakaian wanita semi tradisional cina berwarna merah.
“Bos di sini sangat disiplin. Jadi harus turut semua aturan yang ada kalau masih mau aman dan nyaman selama bekerja,” jelasnya yang kemudian duduk di ranjang sebelah kanan. “Kamu nanti tidur di atas sini tunjuknya pada ranjang tepat di atasnya.
Aku mengangguk, “Ini HP saya.”