Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #16

Lingkaran Kerja (15)

Aku dan Rekan di Restoran

Waktu di sini terasa sangat cepat berputar. Aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa meluruskan kaki yang mulai kaku. Berbincang dengan yang lain sambil mengantri mandi di teras kamar.

Aku mulai mengenal satu-persatu rekan kerja beserta asal mereka. Ada Vivi yang asli Yogya seperti Mbak Jiah. Vivi tipe gadis periang, kulitnya bersih dan tugasnya adalah sebagai pramusaji bersama Mbak Jiah. Lia berperawakan tinggi berambut panjang ala gadis sunsilk datang dari Kebumen, dia ini si penerima pesanan.

Jajaran tukang masak ada Mas Toni ahlinya membuat mie dan nasi goreng, aku belum tahu dia berasal dari mana. Sementara Aldo adik Ce Cathrin spesialis pembuat makanan cina yang aneh-aneh, aku masih belum hafal nama-nama makanannya kalau tidak membawa contekan daftar menu. Terakhir ada Mas Wawan, satpam Restoran Cai Cai.

Oh ya aku belum menjelaskan lokasi mess karyawan secara mendetail. Kamar kami berada tepat di belakang restoran berpunggungan langsung dengan restoran. Bersebelahan dengan toilet untuk pelanggan yang juga jadi tempat kami beraktifitas mandi dan lain-lain. Ada dua kamar bersebelahan, kamar putra yang cuma berisi dua orang yang satunya bertugas sebagai keamanan. Dan kamar putri yang berisi empat orang sangat pas dengan jumlah ranjang.

Di depan kamar kami pemandangan kontras sungguh membuat garis kesenjangan begitu kentara. Sebuah bangunan megah berdiri angkuh kurang lebih lima meter dari kamar kami. Taman dengan rumput lebat menjadi pemisah antara kami dengan rumah itu.

Aku jadi penasaran dengan bagian depan rumah itu. Apakah terlihat seperti istana? Mungkin besok aku bisa melihatnya. Walau semakin tidak yakin bisa keluar karena menurut info kalau mau keluar kami harus meminta izin dengan alasan yang jelas. Tidak boleh keluyuran sembarangan, jika nekat jangan harap bisa masuk karena gerbang restoran yang merupakan pintu keluar masuk bagi kami akan langsung dikunci. Anak kuncinya langsung dipegang oleh Ce Cathrin atau Aldo adiknya.

Aku membaringkan tubuh nan penat di ranjang atas. Di bawah ada Mbak Jiah. Ranjang sebelah bersemayam Lia dan Vivi. Lia yang takut ketinggian memilih tidur di bawah.

Malam ini aku susah memejamkan mata meski seluruh organ tubuh ingin sekali beristirahat total. Pikiranku melayang ke rumah. Aku yakin mereka pasti cemas karena HP mendadak tidak bisa dihubungi. Aku lupa memberi kabar bahwa selama bekerja, karyawan tidak boleh memegang HP. Semoga besok aku ada kesempatan keluar dan menelepon ke rumah.

Rasanya belum sempat aku lelap, azan Subuh sudah berkumandang sahut-sahutan. Aku melongok ke ranjang sebelah, Vivi masih asyik dengan mimpinya. Lalu aku tengok ranjang bawah, Mbak Jiah dan Lia sudah tidak ada di tempatnya. Pintu kamar sudah sedikit terbuka. Aku menduga mereka pasti sedang mengambil air wudu. Aku segera bergegas menyusul mereka meski tubuh terasa lunglai.

Kami bertiga salat berjamaah dalam kamar sempit sehingga membuat posisi aku dan Lia berada di luar kamar. Usai salat, Lia masuk lagi dalam selimutnya. Sementara Mbak Jiah dan aku duduk-duduk di teras lesehan memandang taman dan istana mewah yang menjulang.

Restoran buka pukul sepuluh. Tetapi jam delapan kami harus sudah berada di restoran untuk bersih-bersih atau menyiapkan bahan masakan. Mbak Jiah sejak pukul tujuh sudah berangkat ke pasar bersama dengan Mas Toni membeli kebutuhan dapur. Tepat pukul sepuluh kami harus resmi buka bersamaan dengan datangnya Ce Cathrin yang langsung standby di meja kasir. Sesekali dia memberi perintah ini dan itu kepada kami agar restoran tampak sempurna di matanya.

Matahari terus bergerak dari titik 90 derajad di ufuk timur menuju titik lambung tertinggi nol derajad hingga jenuh, sebelum kemudian tergelincir turun ke titik 180 derajad di barat. Menaiki detik demi detik yang mengantarkan kami memainkan peran dalam drama berlatar restoran cina. Banyak kisah terjalin, banyak kesah teruntai dan banyak impian terburai.

Mbak Jiah orang kepercayaan Ce Cathrin bercita-cita ingin naik haji bareng bapak-ibunya. Umurnya kurang lebih 40 tahun, janda yang ditinggal mati suami sejak usianya 23 tahun. Dari kata-katanya tersirat tak ada keinginan untuk menikah lagi. Cinta mati dia bilang suatu ketika sambil berseloroh. Tapi aku bisa merasakan Mbak Jiah sungguh mencintai suaminya. Tak ada yang bisa menggantikan sosoknya dalam benak Mbak Jiah. Hidupnya kini hanya untuk anak semata wayang dan orangtua yang selalu menunggu kiriman uang darinya.

Lia tak banyak kutahu tentang dia. Tipe orang yang enggan menceritakan kehidupannya. Tapi dia sangat setia menjadi tempat berkeluh kesah seluruh penghuni kamar. Dia selalu tampak antusias mendengar kisah-kisah kami terdahulu. Satu hal yang dapat kucuri dari binar matanya. Dia menyukai Aldo yang lebih suka melirik Vivi.

Vivi sangat bertolak belakang dengan Lia, si gadis periang ini selalu berkisah tentang pacar dan mantan-mantannya yang berjumlah hingga belasan. Sekarang umurnya 20 tahun. Menurut penuturannya, dia mulai pacaran sejak kelas satu SMP, berarti setahun dia bisa ganti pacar dua sampai tiga kali. Hebat juga anak ini. Aku sungguh kagum sama track record-nya. Hal terparah yang dia ceritakan adalah tentang kondisi dirinya yang sudah tidak perawan lagi. Dia menyerahkan mahkota suci pada pacar yang menurutnya sangat dia cintai. Kalau yang lain, cuma untuk iseng-iseng daripada menganggur. Aku berdecak miris mendengarnya.

Lihat selengkapnya