Aku dan Ultimatum Orang Tua
Tanpa terasa bulan ramadan datang seakan ingin menguji keteguhan kami yang bekerja di restoran cina. Tidak ada kata tutup, restoran hanya menutupi diri dengan kerai agar tidak terlihat aktivitas makan bagi yang tidak menjalankan ibadah puasa.
Berat sobat. Perang kami di sini terasa sangat berat. Godaan makanan yang berhamburan dan decak-decak lidah para pelanggan sukses membuat kami selalu menelan ludah sambil terus mengucap istigfar. Mas Toni dan Vivi selalu ketahuan membatalkan puasa di tengah jalan karena tidak tahan dengan godaan tersebut. Apalagi dengan pekerjaan kami yang tetap full bahkan semakin ramai karena banyak rumah makan atau restoran tutup siang hari.
Kerongkongan kering sering mencekik leher. Migranku bertalu-talu memukuli kepala. Lemas sangat hingga kecolongan satu hari batal puasa bukan saat tamuku tiba.
Kami nyaris tak pernah salat tarawih di masjid atau musala. Kadang kalau kami tidak terlalu mengantuk dan lelah, kami menggelar salat tarawih bersama di teras kamar dengan imam Mas Wawan. Hanya Mbak Jiah yang rajin salat tarawih meski salat sendirian di kamar.
Sekitar tujuh bulan lamanya aku tak pernah memberi kabar orang rumah. Untuk menulis surat pun enggan. Aku tidak terlalu ahli dalam merangkai kata. Aku lebih suka bicara langsung daripada harus mendongeng lewat tulisan. Pernah sekali aku menelepon ketika mendapat cuti satu hari.
Suara bapake tampak tegang. Mamake lebih banyak diam mendengar semua tentangku. Di akhir kata mamake memohon dengan sangat agar aku pulang saat lebaran nanti. Aku hanya menghela napas. Bagaimana lagi, aku harus menjelaskan lebaran belum tentu aku bisa memenuhi keinginan mereka karena harus menunggu giliran pulang.
Restoran tidak boleh tutup, kata Ce Cathrin. Hanya satu orang yang boleh pulang dengan jadwal berurutan secara bergantian dengan jatah libur empat hari saja. Mbak Jiah jauh-jauh hari telah memesan libur pada Ce Cathrin, pulang tepat saat lebaran. Kami mengiyakan, kami memaklumi posisinya yang telah berkeluarga.
Pagi yang bersih. Tanpa awan menggantung. Aku dan Mbak Jiah menikmati langit pagi seusai salat Subuh di masjid terdekat. Kami berdua mengusahakannya, karena setiap malam kami tidak bisa salat tarawih ke masjid. Tiba di sekitar area mess masih belum tampak ada kehidupan, tapi mendekati kamar mandi kami mendengar suara orang muntah.
Aku kembali ke kamar sementara Mbak Jiah menunggu dengan cemas di pintu kamar mandi. Setelah meletakkan alat salat aku berdiri mengawasi Mbak Jiah dan pintu kamar mandi yang belum terbuka. Mbak Jiah mengetuk pelan menanyakan keadaan orang yang muntah-muntah itu. Pintu terbuka, wajah Vivi yang ceria menghias permukaan kamar mandi yang kusam.
“Kamu sakit, Vi?” tanya Mbak Jiah.
“Nggak apa, paling cuma masuk angin. Jadi nggak puasa deh,” kata Vivi ringan meninggalkan Mbak Jiah lalu menyapaku dengan manja.
“Aku keroki ya?” tawar Mbak Jiah yang segera menyusul ke kamar.
“Tidak usah, nanti juga baik. Aku mau tidur lagi.”
Aku dan Mbak Jiah saling berpandangan kemudian naik ke ranjang masing-masing. Aku memiringkan tubuh memandang seberang ranjang tempat Lia dulu membenamkan tubuh lelahnya. Mengintip Vivi yang berbaring telentang dengan tangan menyilang menutupi mata. Melongok ke bawah, di mana Mbak Jiah bergelung menyamping kanan membelakangiku. Dan akhirnya aku pun terkapar memandang langit-langit yang begitu tampak rendah. Bintang-bintang di sana seakan sangat mudah teraih.
Sudah dua minggu Vivi tidak puasa. Setiap pagi dia muntah-muntah tidak jelas. Mas Toni yang mengetahui keadaan Vivi sempat berujar barangkali dia hamil. Tanpa terduga Vivi menanggapi perkataan Mas Toni, mengiyakan dengan riang.