Semalaman aku hampir tidak bisa tidur dan terus menimbang langkah apa yang harus kuambil. Menjadi seorang pemberontak yang tidak pernah kulakukan, atau sekali lagi mendengar perkataan dan permintaan bapake-mamake.
Dalam kebimbangan di sepertiga malam aku ambil air wudu. Salat istikharah katanya bisa membantu menentukan keputusan mana yang terbaik menurut Allah. Aku benar-benar bingung. Ingin pasrah pada Sang Pembuat Hidup. Aku pun mengadu dalam tangis.
Rupanya aku tertidur dalam sujud bersama doa-doa memohon petunjuk. Ketika bangun, sekonyong-konyong perutku menjadi mual. Kepalaku juga pusing, mungkin karena terlalu lama berada di lantai. Seperti kena masuk angin. Aku beranjak menuju tempat tidur membiarkan sajadah dan mukena terbiar di lantai. Bahkan aku sampai salat subuh dalam posisi berbaring karena tak sanggup bangun.
Ya Tuhan, hari ini aku harus kembali ke Yogya. Besok giliran Retno, anak baru yang harus pulang.
Mamake masuk ke kamar mencium ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya aku sudah bangun dan membantunya di dapur. Tapi pagi ini sampai matahari setinggi tongkat aku masih mendekam di kamar.
“Yun, bangun. Katanya mau balik ke Yogya,” kata Mamake membuka gorden kamar, lalu membereskan mukena dan sajadah yang terbiar di lantai.
“Aku pusing, Mak. Pusing banget,” rintihku sambil memejamkan mata kembali.
“Lha malah pusing? Bentar Mamake ambil minyak kayu putih dulu. Nanti Mamake keroki,” ujar Mamake yang kemudian berlalu dari kamar.
Tanpa mendengar persetujuan dariku Mamake sudah pasti akan tetap mengeroki meski kutolak. Kali ini aku menurut saja, daripada bertambah parah.
“Merah semua,” kata Mamake yang sudah beraksi menggambari punggungku dengan uang logam dan minyak kayu putih.
Sesekali aku mengerang kesakitan. Mamake tidak peduli, dia terus beraksi bak tukang tato menggurat punggung hingga membentuk garis-garis merah menyerupai zebra cross.
Sebenarnya aku tahu penyebab kulit punggungku menjadi merah setelah di kerok. Bukan karena angin keluar, melainkan akibat gesekan dan tekanan dari koin yang membuat pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit melebar dan pecah. Ambil positifnya saja, tubuhku menjadi hangat karena baluran minyak kayu putih.
Selesai menato tubuhku pakai minyak kayu putih mamake keluar lagi, kurang lebih lima menit kemudian sudah muncul dengan segelas teh hangat juga sepiring nasi dan lauknya.
“Yuni kenapa?” tanya Bapake di ambang pintu.