Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #19

Lingkar Nepotisme Renik (1)

Menjadi Aspri

Silia ternyata tidak lupa padaku. Dari balik celah pintu yang terbuka wajah cerianya tersenyum menyadari sosokku. Tapi bukannya membuka pintu lebih lebar dia malah berlari masuk ke dalam sambil berteriak-teriak mengabarkan kedatanganku.

Bunyi derap kaki kembali menuju depan. Silia langsung membuka pintu dengan sekuat tenaga kecilnya. Pintu tak bergeming, aku tertawa dan segera ikut membantu mendorong pintu depan Mbak Titin yang memang berat. Berat bukan karena jenis kayunya tapi berat karena sisi bawah pintu telah berhimpit dengan lantai.

“Hai Yun, apa kabar?” Mbak Titin muncul sambil menggendong Zidan yang sekarang sudah lebih besar dan tampan.

“Baik, Mbak. Zidan...” pekikku setelah menyahuti sapaan Mbak Titin. Kami saling berjabat tangan erat. Sebelum kemudian aku merebut Zidan dari rengkuhannya. Tidak ada perlawaanan dari Zidan, dia memandangi mamanya dengan senyum senang.

“Ke mana saja, tidak ada kabar,” rengut Mbak Titin. “Hilang begitu saja seperti ditelan bumi. HP tidak pernah aktif, kamu ganti nomer ya?”

“Iya, nomer yang dulu hangus,” jawabku nyengir sibuk dengan Zidan. “Aku habis di penjara di Yogya.”

“Hush! Yang benar lah!” hardik Mbak Titin dengan wajah berkerut-kerut.

“Aku bekerja di tempat yang mirip penjara. Tidak boleh kontak dengan dunia luar. Hanya boleh berkutat dengan pelanggan dan makanan.”

“Asyik dong, bisa makan terus,” sembur Mbak Titin diikuti tawanya yang khas.

“Iya, kalau sempat. Tapi nyatanya makan saja dibatasi cuma 10 menit.”

Aku pun mendongeng secara rinci tentang pekerjaanku selama di Yogya. Mbak Titin ber-O ria kadang berdecak tidak percaya. Mungkin dalam benaknya terpikir, seorang sarjana Magna cumlaude macam aku kok ya mau bekerja sebagai pelayan rumah makan. Tidak level sekali!

Hampir seharian aku berbincang bergurau dengan Silia dan Zidan. Urat syarafku sedikit mengendur berkat Silia dan Zidan yang berpolah menggemaskan. Apalagi Silia yang sudah masuk TK, bicaranya cerewet sekali selalu meminta perhatian dariku.

Lembar baru menyapa bersama sang surya. Aku kembali mengayuh mesin motor menuju rumah Mbak Titin. Kemarin dia bilang hari ini ingin membicarakan hal penting. Berkaitan dengan bisnis baju yang mulai dia geluti hampir setengah tahun ini. Nyaris berbarengan saat aku seolah kabur dari radar semua orang yang kukenal.

Lihat selengkapnya