Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #20

Lingkar Nepotisme Renik (2)

Tawaran Teman

Mendengar ceritaku yang belum mapan, Sifa sobatku menawari usaha kerjasama. Kami tidak sengaja bertemu di Swalayan Koperma. Waktu itu, aku mendapat mandat membeli susu untuk Zidan. Sedangkan Sifa katanya habis mengikuti RAT Koperma, organisasi mahasiswa berbasis koperasi, yang ternyata dia masih menjadi anggotanya.

Sifa tanpa basa-basi menceritakan tentang konsep bisnis yang akan dia gulirkan. Bukan hanya aku, Sifa yang sekarang bekerja di Bank Syariah juga menawari Rika teman kami yang lain. Rika termasuk salah satu teman dekatku selain Sifa. Dulu kalau Sifa sibuk dengan rapat-rapat Koperma-nya aku cuma bersama Rika. Kami bertiga ini kebetulan teman sesama alumni SMA di Purwokerto.

Sifa bilang ingin memiliki cafe buku yang terdiri dari perpustakaan, toko buku dan cafe mini. Katanya penyandang dana orang tuanya, dan dia harus bisa mengembalikan dana tersebut dalam jangka waktu lima tahun. Orang tua Sifa memang keluarga pengusaha. Ayahnya pemilik jaringan mini market lokal di wilayah Purwokerto. Jadi tidak heran jika jiwa bisnis ayahnya mengalir kental dalam tubuh Sifa.

Sebidang tanah yang berhasil ayahnya beli menjadi bakal tempat usaha Sifa. Bangunan dengan model semi tradisional terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan nantinya menjadi swalayan buku, tengah cafe taman dengan gazebo-gazebo yang menjadi tempat duduk tamu cafe sekaligus pembaca perpustakaan. Bagian belakang menjadi perpustakaan.

Konsep swalayan buku Sifa mengandalkan diskon yang jarang diberikan oleh sebagian besar toko buku. Ini akan menjadi daya tarik pembeli yang rata-rata mahasiswa. Untuk toko buku, Sifa menggandeng Faisal teman lain fakultas yang bekerja sebagai marketing buku di penerbit terbesar kedua. Faisal bersedia bekerja sama dan menyanggupi penawaran Sifa. Dia pun segera membuat proposal bersama Sifa untuk dimasukkan ke penerbit-penerbit yang ada.

Selama nyaris satu bulan Faisal setiap akhir pekan menginap di rumah salah satu teman demi mendapat persetujuan dari penerbit yang ada di Yogya dengan sistem konsinyasi. Beruntung ada lima penerbit bersedia diajak konsinyasi. Untuk penerbit-penerbit besar, katanya tidak mau menggunakan sistem itu. Akan tetapi Faisal bilang jika penjualan bagus mereka bersedia memberi buku dengan pembayaran jatuh tempo.

Rika yang jago masak makanan sejenis kue, Sifa tawari menjadi koki cafe. Cafe Mini nanti hanya menyediakan kue-kue mini seperti martabak mini, pancake mini, burger mini dan roti sandwich mini, pokoknya sesuai dengan namanya Cafe Mini. Minuman yang akan ada dalam daftar menu aneka kopi, teh dan ice cream cup.

Sifa sempat buntu soal siapa yang bakal mengelola perpustakaan. Dia bilang tidak mudah mencari orang yang bisa dipercaya. Dan tidak mungkin pula dirinya yang menunggui. Bagaimanapun posisinya masih terikat pada pekerjaan yang masih belum mau dia lepaskan. Sayang, dia bilang. Masih butuh buat tambah-tambah modal. Karena itu Sifa butuh orang tepercaya guna mengelola usahanya. Sampai akhirnya dia menemukan aku yang tengah mengintip koran pada kolom lowongan kerja di pintu Swalayan Koperma.

“Kira-kira begitu, Yun. Kalau kamu bersedia, bagian perpustakaan aku serahkan padamu.”

“Waduh, beri aku waktu untuk berpikir ya,” kataku sambil nyengir. “Kamu tahu kan aku alergi buku selain buku kuliah yang disodorkan dosen.”

Lihat selengkapnya