Waroeng Boekoe++
Sifa sangat antusias mendengar keputusanku mau bergabung dengannya. Dia bilang lusa aku harus datang ke kafe buku untuk membereskan buku-buku yang masih terbungkus kardus-kardus. Tugasku jelas mendata buku, memberi kode, memasukkan ke komputer lalu menyusun buku ke rak berdasarkan kategori buku.
Ternyata setelah menjalani tidak sepusing yang aku sangka. Lagipula jangka waktu soft opening masih empat minggu lagi. Sifa bilang saat soft opening nanti akan memberi harga khusus untuk satu minggu pertama buka, plus bonus-bonus souvenir unik yang Sifa pesan dari teman lain.
Souvenir itu berupa gantungan kunci dari rajutan berbentuk boneka sebagai bonus bagian perpus dan toko buku. Sementara bagian cafe mengeluarkan gantungan rajutan aneka bentuk kue, minuman, coklat dan permen. Miniatur makanan itu sungguh mengundang selera. Pasti kalau makan kuenya yang asli lebih nyummy lagi.
Hebat sekali Dina si tukang rajut itu. Padahal Sifa cuma bilang buatkan aku rajutan makanan untuk gantungan kunci. Dalam waktu sebulan aneka makanan dari rajutan telah siap pajang dan edar. Dulu pas masih kuliah Dina juga sudah berjualan hasil rajutannya. Melihat potensi Dina, Sifa tak lupa menawari Dina agar menitipkan hasil karyanya di toko buku.
Dari tempat kerjaku yang letaknya agak tinggi dan berada paling belakang aku bisa melihat Rika yang sedang sibuk di meja masaknya. Oh ya, di area Cafe Mini ada layanan spesial bagi para pasangan yang datang. Gelas, cangkir dan piring saji berbentuk hati akan menemani keromantisan pasangan tersebut. Tentu saja pancake dan martabak yang mereka pesan akan berbentuk hati juga. Ini pe-er buat Rika untuk membuat hidangan bentuk hati.
Rika tampak tenggelam dalam bahan-bahan kue. Dia bekerja tidak sendiri seperti aku. Ada asisten yang siap membantu di dapur ataupun menemui pelanggan.
Faisal juga sibuk memberi instruksi pada anak buahnya. Mengatur display buku merapikan sisa kardus yang masih bertebaran.
Tinggal lima menit lagi sebelum kafe buku resmi dibuka. Big Bos belum datang. Tapi pada menit-menit terakhir, Sifa muncul masih mengenakan pakaian kerja dengan napas memburu mengecek kesiapan kami semua.
“Aku cuma izin sebentar, kalau sudah beres semua langsung aku buka ya? Eh, musiknya, Jon!” katanya pada anak buah Faisal sambil menuju pintu kaca yang masih tertutup gorden. “Bismilahirrohmanirrohim...”
Sifa dengan dibantu Faisal membuka pintu kaca dorong lebar-lebar. Banner bertuliskan soft opening ‘Waroeng Boekoe ++’ (baca: warung buku plus-plus) pada judul diikuti kata diskon khusus selama satu minggu terpajang pada kanan kiri pintu masuk.
Rika memandangku dengan senyum lebar, secara berantai aku mengumbar senyum pada Faisal dan terakhir Sifa yang sudah buru-buru mau pergi lagi.
“Titip ya, kawan-kawan!” pamitnya seraya mengenakan helm warna pink dan bersiap dengan kuda betina berwarna semu pink.
Faisal segera menemani Jon yang sedang membagi-bagi selebaran pada orang-orang yang lewat depan kafe. Asisten Rika pun tergopoh-gopoh membawa senampan cup cake untuk dibagi di depan Waroeng Boekoe.