Mendadak Pustakawan
Dekat dengan buku membuatku ingin pula menjamahnya. Seperti ada magnet yang menarikku untuk mendekat pada deretan rak yang sesak oleh buku yang bisu. Tentu mereka membisu sampai ada yang bersedia membukanya. Dan tentu saja setelah terbuka barulah ia mengeluarkan banyak cerita untuk kita para manusia.
Tanganku tiba-tiba telah menjulur meraih sebuah buku berjudul Bahagia Adalah Sebuah Pilihan. Sampulnya hitam, sama sekali tidak menarik. Tapi sesungguhnya dari yang hitam tersebut justru akan memunculkan sesuatu yang terang. Bukankah begitu, seperti kata RA Kartini, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Aku merasa buku ini mempunyai aura yang beda.
Aku segera kembali ke tempat duduk mulai membuka buku itu. Aku langsung membaca bab awal. Biasanya para pecinta buku akan mulai membaca dari halaman awal yang ada tulisannya. Mereka tidak ingin melewatkan setiap huruf yang tercantum dalam buku. Tidak denganku. Aku hanya perlu inti sarinya saja. Maka aku langsung membuka sub judul yang langsung menjurus pada cerita.
Belum sampai setengah halaman, sudah ada pelanggan datang menghampiri. Aku kembali mengoceh seperti tukang obat yang menjelaskan khasiat sebutir kapsul. Tergagap menekan-nekan tuts komputer, menerima lembaran uang, menyerahkan kantong kertas dengan senyum terima kasih.
Setiap hari aku melakukan rutinitas tersebut. Kalau ada waktu senggang aku kembali membaca buku-buku yang kuanggap bagus untuk jiwa. Kadang membaca buku baru yang bacanya kulompat-lompat agar tahu apa isi buku tersebut sebagaimana pesan Sifa agar aku paham semua buku yang ada di perpustakaan ini. Jadi jika ada pelanggan yang bertanya aku bisa sedikit memberi informasi tentang buku yang dia pilih. Atau manfaat lain, agar aku bisa merekomendasikan pada pelanggan baru buku-buku mana yang bagus, kurang bagus dan yang cuma sekedar buat lucu-lucuan hiburan.
Terkadang apa yang kita harapkan memang tak sesuai dengan kenyataan. Roda waktu telah menjungkirbalikan bumi tanpa henti. Musim penasaran telah berakhir. Kini Kafe Sifa tak seramai pada dua bulan pertama. Toko buku terkadang hanya satu orang yang datang, kafe juga hanya tiga atau dua kursi yang terisi. Perpustakaan saja yang paling sering dikunjungi, karena komiklah daya tarik terbesar.
Akhirnya kami rapat untuk mendiskusikan fenomena ini. Sifa diam saja, dia memperhatikan setiap kata yang terlontar dari mulut kami satu persatu secara bergantian. Pulpennya sesekali ikut menari di buku catatan. Sementara itu kepalanya memberi anggukan kecil seirama senyuman.
“Kupikir kita harus menambah koleksi buku kita. Kamu tahu mengapa Gramedia selalu ramai meski harga mereka tidak pernah menggelar diskon? Itu karena buku-buku mereka melimpah. Banyak sekali pilihan dan mereka disediakan tempat untuk membaca,” usul Faisal diakhir pemaparan.
“Kalau area toko buku disediakan area untuk membaca, nanti malah bias dengan perpustakaan yang kita punya,” balas Sifa. “Untuk tempat baca di area toko buku, sepertinya kita enggak perlu menyediakan,” perjelasnya kemudian. “Nanti malah pada baca doang, nggak jadi beli. Tambah rugi kita. Gitu, ya, Sal?”
Faisal mengangguk-angguk sambil menarik napas.
“Oh ya.” Sifa mengangkat pulpennya. “Faisal, apa kamu bisa menembus penerbit Gramedia dan Gagas Media? Tolong usahakan untuk itu, tentu kamu tahu kan mana-mana buku yang laris dipasaran, kita ambil beberapa dulu sesuai dana yang kusediakan. Dan sepertinya kita juga harus melakukan polling untuk mengetahui kebutuhan buku mahasiswa. Intinya biar mereka tidak repot mencari buku hingga ke Yogya. Cukup kita saja yang repot menyediakan untuk mereka. Bagaimana?”