Saatnya Mengucap Selamat Tinggal
Tak terasa dua tahun baru aku rayakan di Waroeng Boekoe++. Sudah ada tiga karyawan perpustakaan yang keluar masuk. Selama itu pula, kata Sifa omzet Waroeng Boekoe++ sedikit banyak telah menutup biaya operasional pasca launching dulu. Perpustakaan semakin laris dan koleksi buku pun selalu up date menyesuaikan dengan keinginan anggota.
Kafe Rika lumayan ramai di bagian snack makanan ringan yang memang lengkap. Dan setidaknya tiga sampai lima kali dalam sebulan Rika menerima pesanan kue ultah.
Toko buku Faisal juga mulai lumayan ramai. Apalagi setelah ada pelayanan pesan buku untuk buku kuliah yang bisa diambil sebulan setelah pemesanan. Sifa bahkan menyuruh Faisal agar melobi langsung ke dosen-dosen agar mau membeli buku-buku penunjang kuliah dari Waroeng Boekoe++, tentu dengan servis antar tanpa bea tambahan.
Oh ya, selama aku menunggu perpustakaan mendadak pula aku menjadi seperti seorang psikolog, menjadi pendengar keluh kesah para mahasiswa. Mulai dari duit kiriman yang telat, pacar yang selingkuh, orang tua yang diambang kritis perceraian atau curhat tentang malam pertama bersama pacar. Hal terakhir membuatku miris dalam decak prihatin.
Ada beberapa anggota yang tanpa aku tanya secara tidak terduga mengatakan kalau mereka telah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan pacar. Macam-macam motifnya, ada yang karena ingin membuktikan rasa cinta pacar, ada yang hanya ingin coba-coba karena terpengaruh oleh film yang mereka tonton, dan yang pasti karena ada kesempatan untuk melakukan hal itu. Yang paling parah adalah anggota nomor anggota 226, seorang gadis hitam manis yang kenes. Aku bisa menangkap ada sesuatu yang bisa membuat para jejaka mabuk kepayang. Dalam sebulan dia bilang pernah ganti pacar sampai dua kali, dan dua-duanya pernah mencicip madunya. Tak ada pacar yang tidak dia ajak ke ranjang. Eh, ada satu yang tidak, pacar aslinya yang berada di luar kota. Gila! Bukan uang motifnya, kupikir ada kelainan seksual dengannya. Terlalu tinggi libidonya tanpa dibentengi dinding iman yang kuat. Entahlah!
Pusing aku mendengar kisah-kisah ML mereka. Hah, apa-apaan kalian ini? Hendak pamer padakukah yang hingga saat ini belum pernah tersentuh laki-laki? Ya Tuhan, akankah sebentar lagi negeri ini, yang terkenal sebagai negara mayoritas muslim terbanyak, cenderung agamis akan menjadi seperti negara-negara bebas di luar sana? Bila mengaku masih perawan malah menjadi sesuatu hal yang akan ditertawakan. Keperawanan menjadi sesuatu yang langka.
Survei tidak langsung yang kulakukan membuktikan 300 anggota perpustakaan lima orang telah positif terjangkit virus ML—making love luar nikah. Entah yang tidak ketahuan.
Kalau kalian main ke Waroeng Boekoe++, kalian akan melihat sendiri nanti buktinya. Depan kafe buku ada sebuah kos-kosan baru yang megah. Dan sampai saat ini aku belum paham sebenarnya itu kos putri atau putra? Karena yang kulihat keluar masuk adalah cowok-cewek, tak ada yang sendirian selalu berpasangan. Tempat apa itu? Hotel atau kos-kosan.
Ah sudahlah, tidak ada yang protes tentang fenomena itu. Mengapa aku sendiri yang ribut. Aku sendiri pun punya masalah yang lebih urgen dari kos-kosan yang mirip hotel atau tradisi baru ML pra nikah.
Adikku sendiri juga pelaku tindakan amoral tersebut. Sangat disayangkan padahal orang tua mempunyai harapan lebih. Ya, adikku yang baru saja bekerja sebagai bidan di Purbalingga secara tidak terduga pulang dan menuntut ingin nikah.