Si Itik Buruk Rupa
Dulu ketika aku melihat film kartun di TV tentang si itik buruk rupa, aku sungguh merasa seperti itik itu. Dia terlahir beda dari saudara-saudaranya yang berparas indah. Bahkan banyak yang bilang kalau dia bukan anak kandung si induk. Saudara-saudaranya tidak membela dirinya malah ikut mengucilkan. Anak itik lain tidak mau mengajak si itik buruk rupa bermain bersama. Untung sang induk tetap sayang, tidak lantas mengusirnya. Meski pun sering kali tidak mendapat jatah makan dari si induk itik, karena selalu tersisihkan.
Hari-hari berlalu bertambah besarlah itik-itik kecil itu. Sebuah keajaiban terjadi, si itik buruk rupa kian lama menampakkan kecantikannya. Hal itu jelas membuat iri saudara-saudaranya, bahkan malah tambah membencinya.
Suatu hari saat si itik buruk rupa yang biasa mencari makan sendiri melihat kawanan angsa yang anggun lewat di sungai tempat dia biasa bermain dan mencari makan. Seekor angsa dewasa dengan sekelompok angsa remaja yang jika diperhatikan bentuk mereka mirip dengan dirinya. Setelah meyakinkan diri berkali-kali di permukaan kolam yang memantulkan bayangannya, ragu-ragu si itik buruk rupa mendekati mereka.
Si induk angsa terkejut melihat ada angsa remaja yang datang menghampiri. Mereka berbincang lama dan si itik pun menceritakan tentang induk dan saudara-saudaranya. Si induk angsa kemudian teringat bahwasanya dulu saat mengerami telur, sarangnya berdekatan dengan sarang induk itik. Dan waktu itu dia memang kehilangan satu telur.
Si induk angsa lalu meneliti dengan saksama si itik buruk rupa. Melalui suara, melalui gerak-gerik si itik buruk rupa. Tidak salah lagi. Setelah memastikan bahwa benar itu anaknya yang hilang, si induk angsa langsung memeluk si itik buruk rupa. Dalam keriangan induk angsa mengabarkan pada anak-anaknya atas kehadiran saudara mereka yang hilang. Saudara kandung si itik buruk rupa menyambut antusias dan segera mengajaknya pulang ke rumah.
Induk itik tampak sedih melepas anaknya yang terlahir berbeda itu. Tapi dia paham bahwa anaknya harus hidup seperti angsa yang sesungguhnya. Sebab para angsa memang dilahirkan untuk menjadi penari air yang hebat. Jika dia memaksanya untuk tetap tinggal berarti dia mengubah takdir anak tersebut, menjadikan seekor angsa hidup seperti itik yang lebih suka berada di tanah lembab berair, kadang berkubang lumpur pekat.
Setelah benar-benar dewasa si itik buruk rupa sungguh menjadi angsa yang cantik. Dia bahkan menjadi primadona yang dielu-elukan karena tariannya sangat indah. Para saudara itik yang dulu mengejeknya sangat malu melihat kenyataan bahwa pada akhirnya merekalah para itik buruk rupa yang sesungguhnya.
Versi manusia aku lihat lewat telenovela Betty La Fea. Bercerita tentang seorang gadis berkaca mata dengan kawat gigi dan wajah berjerawat. Otaknya yang cerdas membuatnya bisa bekerja di kantor yang berhubungan dengan fashion. Hingga suatu ketika ada seorang bos wanita yang me-make over dirinya. Tralala... jadilah dia angsa yang anggun dan cantik. Kacamata berganti lensa kontak, kawat gigi dilepas, muka diampelas dari jerawat, tak lupa tatanan rambut yang semula berponi mengikuti tren yang ada.
Sangat cantik, aku sampai terlena berharap kelak akan berubah menjadi gadis cantik yang pada akhirnya digilai banyak pria. Kenyataannya, aku lupa kalau tidak ada artis yang jelek. Pemeran Betty sengaja didandani buruk rupa untuk kemudian dikembalikan lagi pada wajah aslinya yang memang cantik. Lalu aku? Wajahku paten, tinggi badanku pun mentok karena turunan bapake-mamake yang mini.
Kepatenan wajahku ini sepertinya yang membuat para laki-laki enggan menghampiri. Mendekati untuk menjadikan pacar apalagi. Sejak SMA aku hanya selalu menjadi seorang pengagum rahasia. Pangeran impianku sangat jauh di mata dengan kekasihnya yang molek rupawan. Sayangnya, aku bukan hidup di negeri sihir atau dongeng yang pada akhirnya akan berhasil menikah dengan pangeran pujaan tersebut.