Datang Juga Sang Pangeran
Bertahun-tahun aku menjalani masa jomblo yang menyenangkan. Setidaknya teman se-genk berstatus single happy semua, tanpa pacar. Asyik saja kami menjalani kumpul bersama sambil mengobrol tentang mahasiswa idola atau para ‘brownies’ yang kinyis-kinyis manis.
Akhir-akhir kuliah mendadak kami jadi sok intelek. Jika bertemu yang dibicarakan tentang materi kuliah yang berkenaan dengan skripsi yang kami buat. Tiap hari kami harus setia menunggu bapak dosen tercinta yang selalu sibuk dengan proyek-proyeknya hingga skripsi kami selalu menjadi prioritas nomor sekian, karena tidak menjanjikan uang.
Ternyata tidak hanya anggota dewan yang mata duitan, para dosen ternyata terkena fenomena serupa, apa-apa harus mengandung duit baru dikerjakan cepat. Memang tidak semua dosen atau anggota dewan sih, kebetulan dosen yang sedang kami hadapi terembus kabar angin demikian.
Kesimpulan sesungguhnya semua orang mata duitan. Apalagi kalau sudah kenal dengan yang namanya harta duniawi yang serba wah, mobil mewah, rumah megah. Siapa coba yang tidak akan tergoda. Sudahlah.
Nah, gara-gara sering menunggu dosen kayak pasien rumah sakit itulah suatu hari yang panas di ruang tunggu antrian periksa dosen yang sejuk, aku berbincang dengan seseorang. Dia mahasiswa veteran, mahasiswa tiga tahun di atasku yang baru mau maju skripsi. Rupanya dibanding dia, aku lebih berpengalaman dengan Pak Mahmud, sang dosen pembimbing. Waktu delapan bulan pengerjaan skripsi hingga pendadaran cukup bagiku untuk mengenal tabiat beliau.
Mahasiswa uzur itu curi info tentang kebiasaan Pak Mahmud menghadapi proposal atau outline skripsi. Dengan senang hati aku mendongeng tentang Pak Mahmud. Sebagaimana namanya orangnya suka mood-mood-an. Tidak setiap saat bersedia mendapat kunjungan dari mahasiswa skripsi. Cara untuk mengetahui sedang mood atau tidak bisa dilihat dari kondisi alis matanya. Kalau alis mata hampir menyatu, jangan berani-berani masuk ke ruangannya. Apabila nekat, tamatlah riwayatmu selama satu minggu kau akan diingat dan tidak akan dilayani sampai dia lupa tentang dirimu. Kalau alisnya melebar dengan sedikit lengkungan berarti hatinya sedang riang. Saat tepat untuk menghadap karena bisa-bisa skripsimu langsung disetujui tanpa perbaikan.
Mas Bastian mengangguk-angguk sambil mengelus janggutnya yang klimis. Sedang seru-serunya aku berkicau tentang Pak Mahmud tiba-tiba ada seorang temannya datang. Seorang dengan rambut ikal bertubuh gempal langsung mengajak bicara Mas Bastian tanpa menghiraukan mulutku masih bersuara. Aku jadi seperti tape radio yang tidak diperhatikan pendengarnya.
Aku kini menjadi seorang pencuri dengar pembicaraan yang sama sekali tidak kumengerti. Sampai akhirnya Mas Bastian melibatkanku dalam obrolan mereka setelah memperkenalkan aku dengan mahluk selonong boy tadi. Namanya Gugun.
Mendadak kami jadi akrab, mendadak pula aku jadi konsultan mereka khususnya Mas Bastian. Aku yang pada dasarnya baik hati jelas menikmati pertemanan kami. Mas Bastian selalu minta bantuan bahkan sampai pada hal pengetikan materi skripsi. Dan anehnya yang menjadi juru bicara pemohon bantuan malah Mas Gugun.
Witting tresno jalaran soko kulino perlahan menguasai rasaku. Lama-lama aku tersedot magnet ajaib yang membuat hatiku berdesir kembali sama seperti saat mengagumi sosok Septian yang semakin jauh di mata apalagi di hati. Ibarat tidak ada rotan akar pun jadi, itu mendadak jadi semboyanku. Mas Gugun jauh dari pandangan pria ideal, tapi perhatiannya sungguh mencuri hatiku.