Apakah Ada Udang di Atas Bakwan?
Ponselku menyuarakan dering SMS. Dengan malas tanganku merayap menggapai asal bunyi dari benda canggih yang kini bukan lagi barang super mewah. Setidaknya hingga hampir semester akhir aku baru punya benda itu. Kalau bukan karena harus banyak melakukan komunikasi dengan dosen pembimbing, tentu aku tidak akan meminta benda mahal tersebut pada bapake-mamake. Yah, meski telepon genggam yang bapake-mamake sanggup beli hanya ponsel warna hitam besar dengan antena menjulang, tapi aku cukup senang. Setelah itu aku bisa menghubungi bapak dosen pembimbing yang selalu minta dihubungi. Dan teman-temanku bisa mengontak kalau ada sesuatu hal penting di kampus.
Dulu aku termasuk orang yang paling susah dihubungi. Tidak ada nomor telepon, rumah juga jauh dalam jangkauan. Makanya kadang jika ada tugas mendadak aku paling terakhir mengumpulkan. Jadi jangan heran, sejak saat itu aku jadi mahasiswa paling rajin ke kampus. Datang awal dan pulang belakangan menunggu teman-teman pada bubar. Takut ketinggalan info penting.
Aku cukup terkejut sebuah nama yang sama sekali tidak pernah mengontak, tiba-tiba menghias layar ponsel. Bukan orang asing, yang jelas bukan dari Mas Gugun yang kuanggap sudah mati. Ups! Ampun...
Seno, sosok laki-laki tengah baya dengan senyum menawan berhias kumis tipis menepis kegarangan wajahnya yang hitam. Kutaksir umurnya 35-an. Orangnya sangat ramah dan simpatik. Ah, sesaat aku terpana olehnya.
Kenangan lalu menggulir.
Aku terbangun ketika bus mengerem mendadak dan sukses membuat dahiku berciuman dengan jok kursi depan.
“Mbak, ga papa?” ucap seorang pria turut berbela sungkawa.
Aku cuma menggeleng dengan senyum yang kurasa pasti sangat aneh. Antara malu dan menahan rasa sakit. Perhatian sekali, batinku waktu itu.
Kejadian itu sekitar satu tahun yang lalu. Dalam sebuah bus yang membawaku kembali ke pangkuan mamake dari menguras keringat di telatah timur. Dia banyak cerita mengenai bisnis kontraktornya yang sedang naik beton. Penuh percaya diri mendongengkan mimpinya dengan gaya bicara berapi-api. Aku suka mendengarnya dan sesekali menanggapi karena pada dasarnya aku pernah bekerja di kantor kontraktor.
Entah dapat wangsit dari mana tiba-tiba hari ini dia menghubungiku agar mencarikan tempat usaha yang bagus di wilayah Purwokerto. Dia juga tanpa sungkan memintaku untuk survei lapangan jenis usaha yang sedang tren di Purwokerto khususnya daerah kampus.
Hal pertama yang kupikirkan adalah; ini harus dikonsultasikan dengan ahlinya, Sifa. Aku hanya membalas akan mengusahakan, namun tidak berani menjanjikan.
Benar saja Sifa membuka wacana hingga aku berani mengungkapkan ideku pada Mas Seno.
“Oh gitu...” Terdengar suara di seberang.