Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #27

Lingkaran Hati (4)

Apakah Aku Telah Mengorbankan Harga Diri?

Aku memacu motor seperti biasa dengan kecepatan normal. Satu helm tergantung pada setang motor sebelah kiri. Aku mulai membayangkan, apa dia akan mengalami perubahan setelah lama tidak bertemu. Kalau ada perubahan, bisa jadi aku tidak akan mengenalinya nanti.

Oh ya, tadi malam Mas Seno meminta tolong padaku agar menjemputnya di stasiun sore ini. Seperti biasa, mulutku tampaknya telah tersetel tidak bisa menolak permintaan orang yang memohon pertolongan. Langsung saja aku mengiyakan, melupakan logika kepantasan bahwa orang yang akan kujemput nanti seorang laki-laki.

Memasuki pelataran parkir stasiun hatiku semakin berdebar. Mataku terus menyisir pintu halaman stasiun yang luas. Mencari-cari siapa tahu dia sudah menunggu di antara kerumun orang.

Aku menengok ponsel yang masih sepi. Tiba-tiba sebuah telepon masuk dan itu dari Seno.

“Halo, Dik Yuni sudah sampai stasiun?” tanya suara di seberang tanpa basa-basi.

“Sudah, Mas Seno di mana?”

“Ini kereta baru masuk stasiun.” Bersamaan dengan itu memang sebuah kereta meraung dan berhenti di peron. Aku bergegas menuju pintu masuk-keluar peron. Mencari-cari seutas wajah yang mungkin aku kenal.

Sebuah telepon masuk lagi. Bersamaan dengan itu seseorang yang aku kenal tersenyum sambil merapatkan ponselnya di telinga. Laki-laki berkumis tipis dengan sebuah tas rangsel segera menghampiriku.

“Dik Yuni?” sapanya. “Lama tidak ketemu ya? Saya hampir tidak mengenali Dik Yuni.”

“Iya, kita juga dulu baru ketemu dua kali, kan. Aku saja hampir salah mengenali wajah Mas Seno,” kataku untuk mengimbangi pernyataannya.

Dia tertawa renyah. “Ah ya ya… Ayo, rasanya sudah ingin berselonjor di kasur nih,” katanya membimbing keluar.

Aku cukup berbunga, melihat tatapan orang-orang aku bisa menebak, pasti mereka mengira kami pasangan suami-istri. Ah, seandainya benar demikian. Tak apalah, itu cuma sekedar dugaan.

“Wah Dik, saya tidak bawa SIM lho. Maaf Dik Yuni terpaksa yang di depan. Takut ada polisi.”

“Kalau sore begini biasanya sudah tidak ada operasi,” kataku sambil terngiang kata-kata Rika.

“Apes seseorang tidak bisa ditebak, kan? Siapa tahu tiba-tiba sore ini ada operasi.”

“Ya, sudah,” kataku segera menyalakan motor. Ini pengalaman pertamaku memboncengkan cowok selain Tri sebelum dia punya SIM. Setelah punya SIM, memboncengkan aku saja dia ngomel-ngomel sepanjang jalan. Alasannya sih, takut mati pasaran. Dasar Tri!

“Maaf ya sudah merepotkan Dik Yuni,” katanya setelah kami jalan dapat satu kilometer. Sementara jarak yang harus kami tempuh dari stasiun sampai ke Baturaden kurang lebih sepuluh kilometer.

“Tenang saja. Cuma, apa tidak malu nanti dikira tidak bisa naik motor. Cowok lho?” godaku.

Lihat selengkapnya