Kekhawatiran Bapake Seperti Gayung Bersambut
“Yun, bukannya Bapake ingin ikut campur urusan pribadi kamu. Tapi…” Bapake ragu-ragu sejenak.
“Ada apa sih, Pak?” sambarku yang sedang asyik menonton televisi.
“Ini tentang Seno. Bapake kok dengar kabar tidak menyenangkan tentang dia,” lanjut Bapake yang kemudian berhenti lagi. Dia seperti menunggu reaksiku.
Mendengar itu, kontan aku kaget. Bapake tiba-tiba membahas tentang Mas Seno. Memang kemarin, sewaktu aku menjemputnya, aku berpamitan mau menjemput teman di stasiun. Rekan bisnis, kubilang. Namanya Seno. Kemudian ketika sampai rumah bada magrib, aku tentu saja bercerita kalau rumah Mas Seno di Baturaden. Dekat dengan rumah Lik Man, saudara sepupu mamake.
“Jadi bapake menyelidiki dia?” aku langsung sewot.
“Ini kata Lik Man yang tahu kamu dari sana. Menurut Lik Man, Seno itu sudah menikah.” Bapake menatapku lekat-lekat.
“Lha memang kenapa, kalau sudah menikah. Wong, aku sama dia cuma berhubungan dalam hal bisnis,” ucapku santai meski hatiku meloncat keluar.
“Bapake cuma mengingatkan. Jangan sampai kamu terlalu dekat dengannya,” ucap Bapake yang ternyata sudah mengira ada sesuatu antara aku dengan Mas Seno.
“Enggaklah,” kataku cepat. “Bapake tenang aja,” sambungku sebelum menyelinap masuk kamar.
Rasa penasaran menggelitik mengusik, memaksa ingin segera menanyakan kabar yang seharusnya sudah bisa aku tebak. Seno tidak mungkin masih single melihat dari umur dan penampilan. Bodohnya aku tidak menanyakan perihal istri sejak dulu.
Terus terang, aku sedikit berharap hubungan bisnis yang sedang kami rintis kemudian bisa berganti merilis hati kami. Sungguh aku selalu terbuai oleh kata-kata indahnya yang selalu menyanjungku.
Sebuah telepon membalas SMS yang terkirim.
“Maaf Dik Yun, bukan maksudku untuk merahasiakan status pernikahan. Tapi sesungguhnya sudah sejak lama aku dan istri tidak bersama. Dia sekarang berada di Arab, bekerja menggantikan ibunya yang dulu bekerja sebagai pengasuh di sana. Sudah bertahun-tahun, Dik. Dan dia tidak pernah memberi kabar apa pun. Setiap surat yang kukirim tidak pernah dibalas. Terakhir aku telepon dia bilang tidak usah menelepon lagi atau majikannya akan marah. Sesungguhnya aku khawatir akan keadaannya. Kenyataannya sewaktu dia pulang tahun lalu, dia tidak acuh padaku. Aku bingung Dik. Apa salahku coba? Selama ini aku sudah berusaha setia, tapi sepertinya kesetiaanku ini sia-sia. Menurut Dik Yuni, aku harus bagaimana?”
Aku tercekat, mana aku tahu dia harus bagaimana. “Apa istri Mas Seno sudah meminta pisah dari Mas Seno?”
“Secara terang-terangan belum. Tapi dia sering bilang tidak usah menunggunya.”
“Oh,” komentarku habis kata.
“Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan dengan Dik Yuni, tapi besok saja. Insya Allah saya pulang ke Baturaden. Nanti akan saya jelaskan lebih rinci. Dik Yuni bisa jemput saya di stasiun?”
“Jam berapa?”
“Sore, besok saya kabari lagi kalau Dik Yuni bisa.”
“Kalau sore mungkin saya bisa, kalau pagi tidak bisa, masih kerja. Seperti biasa.”