Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #29

Lingkaran Hati (6)

Rencana Bisnis Yang Tampak Menawan

Penjelasan dari Mas Seno yang kusangka akan lebih memberi titik terang, ternyata hanya mengulang kalimat saat dia meneleponku. Terpaksa aku harus menjadi pendengar setia. Tidak mau tenggelam dalam harapan paslu, aku segera mengalihkan topik pembicaraan pada rencana bisnis yang akan kami rintis.

Hari berikutnya kami mengunjungi tempat yang bakal kami sewa. Sebuah tempat yang berada sebelah masjid besar dekat dengan kampus bahasa. Sebuah bangunan yang belakangnya persawahan, bertetangga dengan usaha playstation yang selalu riuh hingga terdengar keluar. Luas bangunan itu 3 x 5 meter, listrik 900 watt, fasilitas air dari sumur. Pelataran depan menyisakan dua meter dari jalan, dan belakang bangunan berupa tanah lembab yang ditumbuhi dua batang pohon kelapa. Ini alternatif tempat pertama yang kutunjukkan pada Mas Seno. Sepertinya dia kurang cocok dengan tempat ini. Apalagi harganya sewanya 10 juta setahun untuk tempat seperti itu. Dan daya listriknya bakal kurang untuk usaha laundry.

Kami segera menuju tempat sewa kedua yang menurutku sesuai kriteria. Tidak berada di jalan tembusan yang ramai seperti tempat pertama. Meski demikian jalan sekitar kampus tentulah tidak pernah sepi dari lalu lalang para mahasiswa, kawasan ini lebih padat kos-kosan dari pada kontrakan usaha.

Sebuah bangunan mirip ruko terbagi menjadi tiga bagian. Dua di antaranya telah ditempati oleh usaha warung makan dan rentalan komputer. Ruang yang masih tersisa ternyata dulunya bekas laundry juga. Sayangnya, tidak bertahan lama. Entah karena pindah atau gulung tikar si empunya toko tidak tahu.

Begitu mendengar riwayat toko itu, Mas Seno langsung hilang selera. Tanpa banyak tanya dia langsung mengajakku pergi. Dia bilang menempati tempat usaha yang dulunya pernah bangkrut bisa membawa dampak buruk bagi usaha berikutnya. Kemungkinan turut gulung tikar besar. Aku hanya mengangguk tidak tahu korelasinya.

Stok kontrakan yang aku rekomendasikan memang cuma tiga. Selanjutnya aku pasrahkan padanya. Setelah berputar-putar sekeliling kampus akhirnya kami terdampar di warung gado-gado yang terkenal enak.

“Susah mencari tempat yang cocok ya?” kata Mas Seno.

“Memang gampang-gampang susah,” komentarku. “Tadi yang terakhir yang di pojokan tikungan boleh juga, tapi terlalu luas, sayang kalau cuma buat laundry saja,” lanjutku. “Harganya pasti juga mahal, bangunan baru.”

“Soal harga aku tidak masalah, tapi seperti kamu bilang kalau hanya untuk usaha laundry rasanya menyia-nyiakan tempat. Kamu ada ide lain?”

“Tidak,” sahutku menggeleng cepat. Otakku sudah benar-benar blank.

“Sayang, besok aku sudah harus pulang. Jadi tidak bisa ketemu pemiliknya untuk memastikan harga dan daya listriknya berapa. Dik Yuni bisa mengurusnya?”

Setengah ragu aku mengangguk. Menyedot air jeruk hingga tetes terakhir yang menimbulkan bunyi. Seharian ini kami bersama seperti pasangan kekasih, mungkin bahkan ada yang mengira sebagai pasangan suami istri. Mari kita abaikan gonggongan anjing yang mengendus hantu.

Yang jelas esok paginya aku harus mengantar Mas Seno ke stasiun lagi. Berusaha menebalkan muka dari sapuan angin pembawa gosip.

Selanjutnya ada tugas lain telah menanti. Menemui pemilik kontrakan usaha yang kemarin sedang keluar kota. Sepulang kerja aku akan mendatangi rumahnya.

Lihat selengkapnya