Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #30

Lingkaran Hati (7)

Apakah Aku Terlalu Menjual Mahal?

Lagi-lagi aku dapat SMS dari seseorang yang tidak terduga. Yahya, dia itu bisa dibilang rekan bisnis Sifa. Dia punya toko buku juga, meski hanya sebuah toko buku kecil, menginduk toko buku Sifa. Aku mengenalnya sewaktu Faisal minta tolong mengantar buku pesanan Yahya karena sejalan dengan arah pulangku.

Yahya berjualan buku pada ruang 2 x 2 meter tanpa rak berderet-deret. Hanya ada sebuah rak yang nyaris ambruk disangga tumpukan buku yang menjulang-julang tiga puluh senti.

Kebetulan teman Sifa, seorang distributor buku di Yogya juga teman Yahya. Makanya teman distributor itu yang kalau tidak salahnya namanya Tofik menyarankan agar Yahya mengambil buku di Waroeng Boekoe++ biar menghemat ongkos kirim. Memang tak banyak buku yang diambil oleh Yahya.

Seperti biasa rasa ingin tahu yang tinggi justru membuatku harus bersyukur bahwasanya aku masih bisa tinggal dan tidur dengan layak meski masih menumpang pada orang tua. Rupanya ruang 2 x 2 meter selain sebagai tempat berjualan, juga berfungsi sebagai tempat untuk tidur alias tempat tinggal.

Tentu saja dibalik rasa iba menguar rasa salut. Aku tahu mimpinya pasti tinggi ingin memiliki toko buku besar. Dalam hati aku selalu menyemangatinya agar tetap sabar sehingga kelak impian agung itu dapat terwujud. Tak seperti aku yang kini tidak punya mimpi besar. Falsafahku sekarang, let it flow. Sebuah pandangan hidup yang terasa seperti orang yang mau mati saja. Membiarkan tubuh mengambang di air tanpa berusaha mengelak jika ada batuan menghantam. Entahlah, barangkali memang asa yang dulu tinggi telah menguap.

Kembali pada Yahya. Pria berumur dua tahun di atasku ini seorang dengan kepribadian santun. Pakaian yang selalu dia kenakan baju koko dengan celana panjang lebar di atas mata kaki.

Sifa pernah iseng ingin menjodohkan aku dengan Yahya. Spontan aku mengelak tidak siap kalau harus bersanding dengan pria sealim Yahya. Sungguh aku paham tak boleh menolak seorang yang baik. Mungkin hanya alibi. Lalu berdalih yang lain tentang cara berkerudungku yang belum benar. Maksudnya kerudungku masih belum menjuntai hingga pinggang sebagaimana ukhti yang rajin ke pengajian atau masjid.

Pikiran yang lebih jauh lagi, aku sungguh takut kelak akan banyak menuntut padanya. Padahal keadaan Yahya, menurut penglihatanku belumlah mapan. Semoga aku salah menilai.

Dan pikiran terburuk lain adalah kekhawatiran absurd, dengan berprasangka dia termasuk anggota teroris. Saat itu memang ada kabar yang terembus bahwa Banyumas menjadi salah satu markas teroris. Ah jahat sekali aku! (Abaikan saja alasan yang terlalu mengada-ada ini).

Yang jelas, aku tidak siap dengan kemungkinan terburuk dari ketidakyakinanku itu. Dan aku hanya berdoa semoga dia mendapat seorang yang pasti lebih baik daripada aku.

Hari-hari berlalu, Yahya pada akhirnya merambah bisnis baju muslim bekerja sama dengan Mbak Titin. Dan aku adalah penghubung keduanya. Tanpa terduga dia ternyata minta tolong Mbak Titin menyatakan niatnya yang ingin serius denganku. Aku sungguh seperti kebakaran jenggot. Dua minggu lalu Sifa menjodohkan aku, sekarang Mbak Titin terang-terangan memintaku agar mau menerima Yahya menjadi calon suami. Duh, kepalaku nyut-nyutan.

Lihat selengkapnya