Sifa Mendahului Kami
Aku segera memarkir motor ketika jalan sudah penuh dengan orang yang berdiri berkerumun di depan janur kuning. Entah mengapa aku jadi berdebar. Padahal hari ini adalah pernikahan Sifa. Sudah sekitar empat tahun Sifa dan Ryan menjalani hubungan tanpa status. Yang aku heran begitu lulus dan masing-masing punya pekerjaan mapan kenapa tidak langsung memantapkan hubungan ke jenjang berstatus. Mereka masih betah membiarkan hubungan mereka tanpa ikatan yang pasti. Kalau aku, jelas langsung ingin menikah jika sudah ada calon yang mapan. (Untuk Yahya yang kutolak, itu bagian dari pengecualian).
Akan tetapi perihal jodoh memang tidak ada yang tahu. Bukankah banyak kejadian, lusa menikah, kemudian hanya karena salah satu berselingkuh, pernikahan yang tinggal selangkah menjadi batal.
Dari tempat parkir motor terdengar suara lagu khas Banyumasan menggema. Sudah kuduga pasti ada prosesi begalan sebelum pengantin pria bertemu dengan pengantin wanita.
Setahuku begalan yang berasal dari kata begal yang berarti rampok, bermula dari proses perkawinan R Ngabei Mertasura putra Bupati Banyumas Adipati Mrapat, dengan Rara Warsiki putri Ki Demang Gumelem. Waktu itu sebelum prosesi pernikahan Ki Demang mengirimkan beberapa telik sandi yang dipimpin oleh Ki Reka Guna untuk menjemput rombongan besan yang dipimpin Ki Niti Praya. Di tengah jalan keduanya bertemu dan saling salah sangka. Rombongan Ki Reka Guna menganggap rombongan Ki Niti Praya sebagai penyusup sedangkan rombongan Ki Niti Praya beranggapan Ki Reka Guna hendak merampok Sanepa Aji yang mereka bawa. Kedua rombongan itu tidak menyadari kalau rombongan yang mereka hadapi adalah rombongan penjemput dan yang dijemput.
Perkelahian seru tidak dapat terhindar, keduanya sama-sama kuat. Ki Niti Praya lalu berseru pada musuhnya;
“Kalian tidak akan bisa merebut Sanepa Aji dari rombongan Adipati Mrapat. Kami akan melindungi sampai titik darah penghabisan.”
Mendengar itu Ki Reka Guna langsung berseru agar pertarungan dihentikan. Dia lalu menyebutkan jati diri mereka, sebagai penjemput tamu rombongan pengantin.
Akhirnya Ki Niti Praya dan Ki Reka Guna berdamai saling meminta maaf. Keduanya lalu bercakap dan kemudian berujar supaya anak keturunan mereka kelak harus melakukan begalan jika menikahkan anaknya. Sebuah prosesi sebelum akad nikah dengan maksud menolak bala atau bencana. Begalan juga mengandung permohonan agar kedua mempelai diberikan keselamatan.
Tradisi begalan hingga saat ini masih terlaksana. Terutama apabila yang menikah anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak pertama yang perempuan.