Dilema Rika
Beberapa hari ini aku lihat Rika banyak melamun. Tidak seperti biasanya seorang Rika selalu bersemangat kalau sudah bersanding dengan kue-kue buatannya. Aku paling suka jika dia membuat cup cake coklat. Ada sensasi lumer dari cokelat ketika menggigit kue mungil itu.
Dari sekian banyak makanan kota semacam roti-rotian, aku paling suka cup cake. Ukurannya pas sehingga tidak membuatku merasa enek sewaktu memakan. Lidah, tenggorokan dan lambungku benar-benar diproduksi untuk mengkonsumsi aneka makanan Indonesia saja. Aku tidak suka pizza, burger, spagheti, kebab, aneka makanan impor lain. Bagiku roti yang dimakan dengan saus, mayonaise dan sayuran terasa sangat aneh di lidah. Membuat lambung teraduk-aduk rasanya. Aku hanya menyukai roti yang manis. Bahkan roti dengan isian keju, daging, atau kue kering kastengels pun tak bisa masuk perutku.
Beda dengan Rika yang hobi makan apa pun. Kesukaannya pada cake dan kroninya membuat dia mengolah makanan berbahan tepung tersebut. Malahan Rika sempat ikut kursus memasak khusus pastry. Tak salah kiranya kalau Sifa mempercayakan café pada Rika.
“Heh, bengong. Gosong tuh!” tegurku pada Rika. Kebetulan aku turun ingin makan es krim cokelat kegemaranku dan menemukan Rika sedang menatap oven dengan tatapan kosong.
“Apa Yun?” tolehnya salah tingkah.
“Minta es krimnya!” kataku sambil mengambil gelas saji kemudian menyekop es krim cokelat dalam freezer dengan tutup bukaan atas. Kalian jangan salah sangka ya? Mentang-mentang ada kafe kami bisa makan seenaknya tanpa bayar. Bisa bangkrut Sifa nanti. Walau tidak ada larangan dari Sifa, tetap saja kami tahu diri. Es krim yang akan kunikmati ada tarifnya.
“Kenapa sih, kok resah dan gelisah begitu?” tanyaku mencoba memancing keluar sesuatu yang tak terkatakan oleh Rika.
Rika itu orangnya tertutup, dia tidak suka bercerita tentang segala hal yang menyangkut dirinya, keluarganya. Tidak seperti aku yang paling tidak bisa menyimpan rahasia. Entahlah, ini sifat buruk atau baik. Aku selalu cerita tentang apa saja yang mengganjal dibenak. Semua kesenangan, rasa sedih dan segala tentang keluargaku. Tentu tidak semua aku ceritakan, hanya pada orang-orang yang kuanggap dekat. Dan banyak orang yang kuanggap dekat. Intinya tidak ada rahasia dalam hidupku.
Rika hanya menghela napas, “Tidak ada apa-apa,” sahutnya tersenyum terpaksa.
“Semua orang memang punya masalah ya?” kataku kemudian. “Katanya masalah bisa mendewasakan diri kita. Tergantung bagaimana cara penyelesaian masalah itu. Pakai jalan pintas atau mengurai satu-satu.”
Rika merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebatang cokelat.
“Mau?”
Tanpa banyak basa-basi aku langsung menerima tawarannya.
“Katanya cokelat bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik. Mari kita buktikan! Para jombloer ini, mari kita menikmati hidup!” seru Rika tiba-tiba.
Kami berdua akhirnya cuma duduk-duduk sambil menikmati sebatang cokelat dan es krim rasa cokelat. Berbincang-bincang tentang segala hal tanpa menyinggung kegundahan yang bersemayam di hati Rika. Untung kafe dan perpustakaan sedang sepi.
***