Di Hari Pernikahan Adik Rika
Hari pelaksanaan pernikahan adik Rika tiba. Katanya perayaan berlangsung selama dua hari, sekarang dan besok. Untuk hari ini pra akad nikah, biasanya tamu yang datang tetangga atau kenalan keluarga. Yang menyambut para tamu hanya pengantin perempuan dan orang tua pengantin perempuan.
Sementara esok hari, setelah akad nikah berlanjut ke acara resepsi pernikahan yang resmi. Kedua mempelai sudah duduk di pelaminan beserta masing-masing orang tua.
Rika tampak tenang-tenang saja tak berniat izin untuk menyaksikan hari bersejarah dan bergembira bagi keluarganya. Terpaksa aku tidak banyak bertanya tentang itu. Rika terus-menerus menyibukkan diri di laboratorium masak. Sepertinya dia sedang melakukan eksperimen makanan.
Aku sedang membereskan buku-buku baru, ketika Rika masuk perpustakaan dengan membawa sebuah piring.
“Kamu harus mencicipi ini, Yun,” katanya menyodorkan piring berisi mendoan, makanan khas Banyumas. Tempe goreng tepung yang digoreng tidak kering alias setengah matang. Bedanya mendoan yang Rika suguhkan padaku terdiri dari dua lembar mendoan yang selanya terselip daun selada yang tersembul keluar.
“Apa ini?”
“Coba kamu makan saja! Mumpung masih panas,” perintahnya. “Itu namanya mendon-ger. Enaknya dimakan saat panas.”
Aku sempat bingung cara makannya, karena ketika tanganku menyentuh mendoan itu terasa membakar tangan.
“Pakai dong pisau dan garpunya. Biar tampak elegan.” Rika meringis ketika aku hendak menggigit mendoan susun buatannya itu, namun beberapa kali aku mengibaskan tangan karena kepanasan.
Aku mengamati apa saja yang terselip dalam mendoan susun setelah berhasil memotong tepat di tengah-tengah. Selain selada, ternyata Rika menyisipkan daging asap pipih seperti pada burger, sensasi saus cabai dan sesuatu yang putih gurih yang aku tidak tahu namanya, memberi kejutan beda saat makan mendoan.
“Jadi ini mendoan ala burger?” tanyaku memastikan. “Oh ya yang saus putih ini apa namanya?”
“Mayonaise. Bagaimana? Enak?”
“Enak, daripada dikombinasikan pakai roti aku lebih suka ini, kecuali mayonaise-nya.” kataku terus terang. “Ini menurutku, kamu harus minta pendapat yang lain, Sifa dan Faisal wajib coba.”
“Iya, itu pasti. Aku ingin tahu pendapatmu dulu kok, sebelum yang lain, sebab kamu kan tidak suka makan burger jadi aku ingin tahu reaksi lidah orang yang tidak suka burger dulu.”
“Cukup mengenyangkan!” komentarku selanjutnya.
“Setelah kupikir-pikir, aku kok ingin megubah menu dalam kafe ya?” katanya kemudian.
“Memang kenapa dengan menu yang ada?”
“Terlalu kebarat-baratan dan sudah banyak pesaing. Aku pikir jika kita menyajikan sesuatu yang beda bisa menarik perhatian bukan?”
“Apa rencanamu?”
“Aku ingin membuat mendon-ger sebagai menu utama, dan jajanan pasar seperti cenil, klepon, ciwel, getuk sebagai menu pendamping.”
“Tapi makanan itu tidak tahan lama kan?”
“Ya, memang harus habis sebelum sore. Aku rasa bisa dimasukkan dalam lemari es.”
“Apa prospeknya akan bagus?”
“Karena itu aku ingin konsultasikan dengan Sifa.”
Aku manggut-manggut menanggapinya seraya menyuap mendon-ger ala Rika. Hebat juga Rika ini, bisa membuat sesuatu yang lain dengan makanan.
Sebuah kebetulan yang indah, Sifa muncul lebih awal dari biasa. Meski hari Sabtu libur, Sifa biasanya datang tengah hari. Kali ini dia datang dengan pakaian rapi seperti mau menghadiri acara resepsi pernikahan.