Dilema Versi Yuni
“Pokoke aku harus nikah!” kata Wiwi dengan ketus.
Aku yang baru pulang kerja cukup terkejut mendengar seruan Wiwi tersebut. Ragu-ragu aku melangkahkan kaki memasuki area percakapan antara Wiwi dengan Bapake dan Mamake. Suasana hening, yang terdengar hanya gumaman Mamake yang tidak begitu jelas terdengar. Begitu aku muncul suasana tambah mencekam.
Aku melirik sekilas dan semua mata menatap ke arahku. Aku berusaha tidak peduli dan segera masuk kamar. Mencoba mencuri dengar tentang keinginan Wiwi yang ingin menikah secara tiba-tiba. Bisik lirih tak dapat kutangkap lewat indera pendengaranku. Hal jelas yang sangat keras terdengar kemudian hanya bunyi berdentam pintu kamar yang dibanting keras.
Aku hempaskan tubuh ke kasur yang mulai mengeras. Pikiranku melayang, baru tiga bulan lalu Rika pulang dari sini. Sekarang, tampaknya giliranku yang akan dilangkahi oleh adinda tercinta. Aku tersenyum sambil bangkit dan menghela napas. Yang akan terjadi, terjadilah.
Malam berikutnya ketika Wiwi sudah kembali ke tempat kerjanya, Bapake-Mamake memanggilku untuk bicara serius. Bapake tampak gundah, Mamake berkali-kali memegang kening.
“Yun, adikmu minta nikah. Priwe (bagaimana) menurutmu?” tanya Bapake langsung.
“Ya sudah, nikahkan saja.” Setelah tercekat, hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
“Maksude apa? Ra pa-pa kalau kamu dilangkahi Wiwi?” perjelas Mamake.
“Kalau Wiwi sudah punya kemauan apa bisa dicegah?” tanyaku balik.
“Ya kaya kuwe kan bocahe (kan memang seperti itu anaknya),” gumam Mamake.
“Ya sudah, aku sih tidak masalah,” kataku lagi meski hati serasa mati. Jadi ini sensasi dilangkahi adik. Aku sekarang paham kenapa Rika sampai kabur dari rumah tak sanggup menyaksikan pernikahan adiknya.
“Tenang aku tidak akan kabur kok,” selorohku mencoba mencairkan suasana yang super tegang.
“Iya, tapi sing jadi pikiran inyong kie sapa cowone (—aku itu siapa cowoknya)?” kata Mamake. “Sing endi koh (yang mana)?”
“Hah, jadi belum pada tahu sapa?” aku ikutan melongo.
“Lha ganti-ganti terus, mbok,” kata Mamake.
“Kemarin tidak tanya?” aku mencoba mengingatkan.
“Dianya ra ngomong,” ucap Bapake yang cenderung tidak mau bertanya-tanya langsung.
“Sebelumnya kan sama polisi, lha kemarin koh datang sama orang yang beda. Jare (katanya) perawat,” terang Mamake.
“Wah, kalau itu aku gak ikut-ikut,” kataku angkat tangan sembari berdiri. “Ya lihat saja besok yang datang melamar yang mana.” aku menguap lebar. “Tidur dulu Mak,” pamitku meninggalkan bapake-mamake yang masih membahas tentang Wiwi dan calon menantu mereka yang misterius.
Sepertinya ucapan Wiwi tidak main-main tentang pernikahan kali ini. Dua minggu kemudian tanpa memberi kabar, orang tua calon Wiwi datang melamar. Bapake-mamake jelas kaget menerima kedatangan tamu yang tiba-tiba langsung melamar dan minta kepastian kapan hari H-nya.