Sebuah Tanda Tanya
Aku sungguh tidak menyangka jika keponakanku akan lahir cepat. Yang jelas dia tidak lahir premature, dia lahir tepat sembilan bulan. Penasaran aku hitung mundur bulan kelahiran ponakanku dengan bulan pernikahan Wiwi. Cuma ada tujuh bulan, berarti… apa aku sudah salah hitung?
Rika mendekat penasaran melihatku menghitung jumlah jari tangan sendiri.
“Ada apa Yun, aku lihat tanganmu masih lengkap.”
“Dari Maret ke Oktober berapa rentangnya, Ka?”
“Tujuh bulan, kenapa? Kamu kan bisa berhitung.” Rika mengambil tempat duduk di depanku seperti biasa. Meski dia duduk di depanku tetapi arah duduknya menyamping lurus ke arah rak buku yang menghadap padanya. Dengan posisi itu, matanya bisa sesekali menoleh ke area kafe yang berada di samping kiri. Sebagai antisipasi jikalau ada pelanggan yang datang.
Aku hanya mendesah menanggapi pernyataan Rika. Menopang dagu memandang lurus ke arah pintu keluar yang terbiar terbuka di area toko buku.
“Ada apa sih?” Rika semakin penasaran.
“Kadang ada saja ya, sesuatu yang tidak kita suka tapi malah terjadi dekat dengan kita, dan justru itu keluarga kita.”
“Apa jane, gak mangsud aku (apa sih, tidak mengerti).”
“Cuma sama kamu ya, aku cerita. Sepertinya adikku sudah hamil sebelum menikah. Pantas dia begitu ngotot minta nikah.”
Rika hanya tersenyum mendengar analisisku. Seperti tidak kaget, sebagaimana perkiraanku.
“Bagaimana dengan adikmu?” Akhirnya aku bertanya perihal keadaan adiknya yang sudah lebih dulu menikah. Seperti kubilang, Rika tipe orang yang tertutup. Dia hampir tidak pernah cerita tentang keluarga atau urusan pribadinya.
“Entahlah Yun, tapi perhitungan bulannya juga agak ganjil. Tapi aku nggak terlalu memusingkan itu. Biar saja, toh bukan aku yang mengalami.”
Aku memandang Rika dengan tatapan mengambang, sambil menerawang pada salindia tiap peristiwa atau tepatnya riwayat percakapanku dengan para pelanggan.
“Waktu itu aku sangat prihatin dengan para mahasiswa yang curhat melakukan ML padahal masih pacaran. Tidak disangka adikku malah korban dari kecelakaan itu sendiri.”
“Tapi Yun, sesungguhnya dalam hati aku justru sedikit lega. Setidaknya ada alasan kenapa adikku harus menikah duluan,” lanjut Rika ikut menopang dagu sambil mengutas senyum yang berarti kelegaan.
“Ka, kenapa nasib kita hampir sama terus ya?”