Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #36

Lingkar Keluarga Terdekat (2)

Gempa Keluarga

Semua berjalan normal setelah masa cuti Wiwi tiga bulan selesai. Aku kembali tenggelam dalam pekerjaan dan bersosialisasi dengan banyak orang. Berbagi cerita, tawa dan kesedihan.

Saat aku merasa semua berjalan normal, tiba-tiba gempa yang menggoncang datang. Sumber gempa Wiwi lagi. Tanpa angin tanpa hujan, tanpa tanda apa pun guncangan itu membuat bapake-mamake lemas hanya saling tatap. Aku yang baru saja pulang mendapat kabar tersebut seketika hanya menghela napas ikut duduk tanpa berkomentar.

“Baru satu tahun masa mau cerai,” gumam mamake lagi. “Priwe kiye, Yun?”

“Sebaiknya Bapake-Mamake memastikan lagi kabar itu. Aku rasa itu hanya emosi sesaat Wiwi saja, seperti biasa kan. Selalu menuruti naluri kekanakannya,” ucapku berusaha menenangkan.

“Bapake jal ke sana,” kata Mamake.

“Sama kamu ya, Yun?” ajak Bapake.

“Mau berangkat kapan?” tanyaku sedikit keberatan, karena posisiku harus bekerja.

“Ya besok pagi, pakai motor,” sahut Bapake tegas.

“Berarti aku harus bolos kerja,” keluhku yang merasa tidak enak sama Sifa.

“Sekali-kali kan ra pa-pa,” bujuk Mamake.

“Nanti aku coba hubungi Sifa buat izin. Moga Uni bisa gantiin aku masuk pagi,” desahku tidak ingin membuat kedua orang tuaku tambah gusar.

“Bilang kalau ada urusan keluarga yang sangat penting. Masa Sifa tidak mau mengerti,” imbuh Mamake terkesan memaksa.

Aku segera SMS Sifa setelah menjelaskan keadaan genting yang menimpa keluargaku. Tepatnya keutuhan keluarga Wiwi, adikku. Seperti biasa, aku menjadi laksana penasehat bagi ayahanda yang mulia dan harus turut serta dalam proses penyelidikan kasus mereka.

Walau sungguh aku tidak tahu hendak berkata apa saat bertemu mereka nanti, yang penting mencari tahu duduk permasalahan yang memicu kata cerai dari mulut Wiwi. Perjalanan selama dua jam disambut tangis bayi yang nyaring. Tanpa mengetuk pintu aku segera menerobos masuk rumah dinas Wiwi yang menjadi satu dengan tempat prakteknya.

Sepi tidak ada siapa pun. Aku mendapati Sefi menangis sendiri di box bayi hingga napasnya putus-putus. Aku segera menggendong, memberinya susu botol yang ada di meja sebelah box bayi. Sefi kembali tenang, bahkan dia langsung tertidur dalam buaianku.

Satu hal yang tidak aku mengerti, ke mana perginya ayah-ibu Sefi. Aku benar-benar marah. Ini sungguh keterlaluan! Bapake juga terlihat gusar.

Bocah ra nggenah (anak nggak jelas), bayinya kenapa ditinggal sendirian!” rutuk Bapake. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah.

Tak lama kemudian Wiwi muncul sambil membawa bungkusan plastik kecil. Mulutnya manyun cemberut menatap kami. Sepertinya dia sama sekali tidak suka melihat kehadiran aku dan Bapake.

“Ada apa?” sambutnya.

Lihat selengkapnya