Ibu Bagi Keponakan
Sudah satu bulan Sefi dalam pengasuhan mamake dan aku. Selama itu Wiwi cuma menjenguk sekali saja. Mungkin dia malas menanggapi pertanyaan bapake-mamake berkenaan dengan perceraiannya. Yang aku heran apa dia sama sekali tidak rindu dengan Sefi. Apa pertanyaan tentang status perceraian begitu mengganggunya sampai dia tega lepas tangan begitu saja terhadap Sefi, anaknya.
Padahal aku selalu merindukannya kala harus pergi bekerja jauh dari Sefi. Tangisan menjelang keberangkatan ke Waroeng Boekoe kadang membuatku tak tega meninggalkannya meski sudah ada mamake dan bapake.
Hingga suatu hari Mamake jatuh sakit, sehingga terpaksa aku menjaga Sefi dan membolos kerja. Rasanya cukup menyenangkan mengetahui tahap demi tahap pertumbuhan dan pergerakannya. Saat ini Sefi memasuki fase persiapan merangkak. Dari tengkurap, Sefi sudah mulai mengangkat tubuhnya. Hampir seharian aku bermain-main dengan Sefi. Walau lelah tapi sangat menyenangkan.
Aku menatap Sefi yang tertidur pulas setelah aku gendong. Kasihan anak ini, ayah-ibunya hanya peduli pada kepentingan mereka sendiri. Mengapa harus Sefi yang menjadi korban keegoisan orang tua.
Aku mengecup pipi Sefi yang gembul. Saatnya aku melihat kondisi mamake yang terisolasi di kamar karena takut menulari Sefi. Mamake terkena flu berat hingga demam cukup lama.
“Bagaimana Mak, sudah mendingan?” aku masuk kamar Mamake lalu duduk di tepi ranjang.
“Sefi lagi tidur?” Mamake balik tanya.
“Iya. Obate sudah diminum?” aku melirik meja di sebelah ranjang Mamake yang penuh aneka macam barang. Obat Mamake tampak terselip di antaranya.
“Sudah,”
Aku bangkit dari duduk lalu membereskan meja Mamake.
“Tidak usah diberesin,” kata Mamake.
“Biar rapi, Mak. Biar kalau cari barang cepat ketemu,” aku mengumpulkan peralatan make up sederhana seperti bedak dan lipstik jadi satu wadah. Kemudian ada peniti, jarum, gunting aku masukkan dalam wadah kecil yang tergeletak tanpa isi. Minyak kayu putih, balsem, uang buat kerokan juga ikutan memenuhi meja kecil itu.
“Yun, apa sebaiknya kamu keluar kerja saja. Sefi sedang aktif-aktifnya. Mamake tidak sanggup kalau harus menjaga Sefi dan menunggu warung.”
“Tapi Mak….” aku menatap mata Mamake yang sayu dan merasa lelah. “Aku perlu bicara dengan Sifa dulu,” kata-kata penolakan aku alihkan dengan dalih Sifa.