Reuni Tidak Terduga
“Ayuh, melu Inyong. Kancani lah! (Ayo ikut aku. Temani aku).” desak Bu Gedhe Nata.
“Tapi Dhe, Sefi tidak bisa ditinggal,” dalihku enggan. Mamake sedang keluar ada urusan ke tempat saudaranya yang mengantar Tri. Sementara di rumah cuma ada aku dan Sefi yang kini tengah menggelayut dipangkuan.
“Bapakmu kan, bisa jaga Sefi. Sedela be (cuma sebentar aja).”
“Ana apa sih? Rep ming ngendi? (Ada apa sih. Mau ke mana?)” Bapake yang baru datang dari sawah menengahi kami.
“Aku minta Yuni buat nemani ke tempat kenalanku. Anaknya habis kecelakaan katanya sekarang lumpuh. Nembe sempet nengok siki (Baru sempat jenguk sekarang).”
“Kang Nata lagi ke mana? Rido kan juga bisa nganter?”
“Nek nunggu kae ya malah ora sida mangkat (Kalau nunggu dia, tidak tahu kapan akan berangkat).” cetus Bu Gedhe Nata. “Apalagi Rido, bocah kae dolan bae angel goletane (Anak itu main terus susah carinya).”
“Oo oh,” tanggap Bapake. “Yun, jal temani Bu Gedhe.”
“Bapake bisa jaga Sefi?” lontarku sedikit sangsi.
“Iya, bentar lagi Mamake kan pulang.”
Aku mengangguk ragu lalu mengangkat Sefi untuk kuserahkan pada Bapake. Sefi sempat berontak, setelah kami bujuk macam-macam barulah dia mau lepas dari rengkuhanku.
Bu Gedhe tersenyum puas ketika aku mulai masuk kamar untuk ganti baju yang pantas. Tidak sampai delapan menit aku sudah siap jadi tukang ojek Bu Gedhe Nata.
Sore ini matahari masih cukup menyengat. Apalagi saat laju kuda besi menantang pancarannya. Aku sampai memicingkan mata untuk menghalau silau yang menghujan. Tiba di perempatan Dukuh Waluh kami mengambil jalan lurus kemudian sebelum kampus UMP kami belok ke kanan masuk ke sebuah jalan kecil.
Bu Gedhe mengarahkan motor agar parkir di pelataran rumah dengan lantai teras berwarna merah. Ada pohon rambutan berdiri angkuh menaungi kendaraanku. Bu Gedhe Nata telah disambut oleh si empunya rumah dengan ramai.
Ruang tamu sempit mendamparkan kami untuk duduk di atasnya. Sementara aku hanya menjadi penonton bagi percakapan seru antara Bu Gedhe dengan kenalan atau temannya itu. Cengiran kecil kadang aku suguhkan turut memeriahkan kerling-kerling mereka.
“Boleh kami menengoknya?” kata Bu Gedhe.
“Iya, mari!” ajaknya beranjak mempersilakan kami menuju ke dalam.
Ruang keluarga cukup luas menampung sebuah tempat tidur yang berisikan seorang yang tergolek dengan tatapan mata ke arah TV. Kursi sudut yang mulai terluka memangku kasur lantai kurus kering.
Bu Gedhe menyalami seorang pemuda yang tidak berdaya di tempatnya. Aku pun setelah mendapat komando ikut menyalaminya.
Begitu mata dan tangan kami saling bertaut, sejurus aliran listrik menyengat hingga jantung. Tidak salah lagi. Aku tidak mungkin lupa wajah yang pernah mengisi kelindan benakku dahulu.
“Dulu kamu SMA 2?” tanyaku spontan.
“Iya,” sahutnya dengan tatapan bingung.