Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #40

Lingkaran Perjodohan (3)

Janji Pernikahan part 2

Sesuai mandat Wiwi sebagai mamanya, Sefi masuk PAUD Tunas Harapan. Setiap hari aku ikut sekolah karena Sefi tidak mau ditinggal. Melihat keriangan anak-anak membuatku tak lepas menguar senyum. Keluguan dan kelucuan mereka sungguh menenangkan. Membuatku teringat kala kanak dulu. Tak ada beban hidup yang terpikul di pundak, lepas. Bermain, berlari tidak takut hari esok menghampiri. Hanya senang menguntai cita-cita setinggi bintang.

Saat menunggui Sefi itulah secara spontan aku ikutan menjaga dan mengawasi anak-anak. Lama-lama karena ketelatenanku, Ibu Kepala Sekolah memintaku turut membantu sebagai staf pengajar. Selalu saja rezeki itu datang secara tak terduga. Berkat PAUD Sefi aku mendapat pekerjaan baru.

Satu tahun berlalu, Sefi telah naik tingkat ke TK. Setiap hari aku berangkat bersamanya. Hingga suatu kali ada anak yang turut serta bersama kami. Dia Aurel, masih duduk dibangku PAUD.

Kebetulan, papa-nya minta tolong pada pihak sekolah agar ada yang bersedia menjemput dan mengantar si anak yang dalam pengasuhan neneknya, istri papa Aurel sudah meninggal. Papa anak itu harus berangkat kerja pagi sekali, sementara si ibu—nenek Aurel tidak mungkin mengantarkan cucunya ke PAUD Tunas Harapan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Jadilah aku tukang ojek Aurel, karena satu arah dengan rute pulang-pergiku.

Awalnya Aurel susah bergaul dengan teman-teman. Dia hanya suka memperhatikan teman-temannya bermain, bersenda, berlari-larian dan bercakap ala kanak-kanak. Dia hanya jadi pengamat saja. Jika merasa bosan dia akan menghampiriku meminta pulang. Dia pun menjadi sangat ketergantungan sama aku. Saat diberi pekerjaan tangan, dia hanya mau mengerjakan jika kutunggui. Begitu ditinggal dia malah ikut jalan-jalan menguntitku mengawasi pekerjaan anak lain.

Berbagai cara aku lakukan agar Aurel dapat membaur dengan anak lain dan betah di PAUD. Dalam hal ini aku harus aktif mengajaknya bergabung dengan gerombolan-gerombolan yang tercipta. Pokoknya aku selalu melibatkan dia dalam segala macam aktivitas agar terlupa kata pulang.

Perlahan tapi pasti usahaku lumayan membuahkan hasil. Aurel mulai bisa bergaul meski masih dalam kelompok kecil. Dia pun sudah jarang merengek minta pulang. Senang bisa melihatnya tertawa bersama teman sebaya.

Hubungan kami sudah seperti ibu dan anak. Kadang malah Bu Suti, nenek Aurel suka menitip padaku jika kebetulan dia ada acara kumpulan PEPABRI—suami Bu Suti purnawirawan TNI, atau saat dia mengambil uang pensiunan. Tak masalah, Aurel aku bawa pulang rumah. Dia biasanya akan bermain dengan Sefi. Jika Bu Suti telah sampai di rumah, aku kemudian mengantarnya. Seringnya Aurel mogok pulang. Dia terlalu asyik bermain dengan Sefi dan aku sehingga perlu waktu untuk membujuknya pulang.

Suatu hari ketika aku mengantar Aurel pulang, Bu Suti mengajak masuk. Tidak biasa beliau memaksaku menjenguk ruang tamunya. Dua tanganku telah terseret melaju ke dalam melalui tangan Aurel dan Bu Suti. Terpaksa aku menuruti ayunan tarikan dari dua orang beda generasi itu.

Ruang tamu Bu Suti tidak terlalu luas. Di sudut kanan sofa terdapat pajangan pesawat dari selongsong bekas peluru. Lurus depan atas dari tempat duduk terpampang foto keluarga jadul. Sang kepala keluarga menggunakan seragam dinas harian lengkap warna hijau. Si ibu, mengenakan seragam Persit Kartika Candra Kirana berwarna hijau muda. Seorang anak laki-laki berdiri tak kalah tegap dari ayahanda. Sementara seorang gadis kecil tersenyum manis dipangkuan ibunda.

Aku langsung bisa menebak para penghuni rumah ini. Dahulu kala tentunya, sebelum si sulung menikah dan mempunyai anak. Seharusnya foto baru terpajang sebagai jalinan foto siklus metamorfosis.

“Bunda Yun,” ucap Bu Suti setelah aku duduk dengan nyaman. Panggilan Bunda memang berlaku bagi semua pengajar di PAUD Tunas Harapan. Aurel turut duduk di sebelahku menggelayut manja. “Aurel sangat dekat sekali dengan Bunda Yun.” senyum cerah tertampil seiring tatapan mata yang bergantian mengarah padaku lalu Aurel.

“Iya nih Bu,” aku mengelus kepala Aurel.

“Aurel pernah bilang ingin punya mama Bunda Yun.”

Lihat selengkapnya