Janji Pernikahan part 3
Aku termasuk orang yang gagap teknologi. Jarang main internet dan belum kenal media sosial yang sedang mewabah. Hanya saat orang-orang bicara tentang facebook dan menjadi demam karenanya, aku jadi penasaran seperti apa facebook itu.
Melalui ponsel pintar pada masanya aku berkenalan dengan facebook. Tentu saja, Tri sebagai pembuka awal masuk ke sana. Sesuai kata-kata Tri yang bilang bahwa dengan facebook kita bisa mencari siapa saja, aku mulai mencari semua teman SMA sampai teman kuliah. Cukup takjub bisa berhubungan kembali dengan mereka yang telah putus komunikasi. Aku juga bisa memantau keadaan teman-teman sekarang. Bisa tahu apa yang sedang dia lakukan, bisa tahu jika mereka telah menikah, punya anak atau beli mobil dan rumah baru. Atau sekedar membaca celoteh tidak penting dari mereka.
Aku hanya senang menjadi pengamat. Selain karena tidak pandai berkata-kata, aku tidak ingin dunia tahu segala hal tentangku terlalu mendetail. Apalagi kondisiku sama sekali tidak memungkinkan untuk bisa memamerkan sesuatu. Hidupku begitu-begini saja.
Gambar profilku juga bukan foto diri. Aku memilih gambar animasi cewek berjilbab untuk mewakili karakter seorang Yuni. Cukup sadar terkait bentukan wajah sendiri.
Seperti kata Tri lagi, bahwa mungkin saja ada banyak orang asing yang mau berteman dengan kita. Benarlah adanya; beberapa orang ingin berteman, tapi aku cukup selektif memilih pertemanan di jejaring sosial. Biasanya yang tidak kukenal, aku abaikan. Sampai ada yang aku cuekin permintaan pertemanannya gara-gara dia memakai nama anaknya. Dia protes menulis di dindingku yang nyaris kosong. Kenapa tidak mau berteman dengannya? Apa sudah lupa dengan persahabatan kita dulu?
Sejak itu aku mulai membuka setiap profil permintaan teman, termasuk berandanya untuk melihat kenal atau tidak orang tersebut. Seperti pertemuan dengan Saiful yang teman sales stabilizer dulu. Kami akhirnya mengobrol lewat jaringan maya. Siapa sangka posisinya sekarang berada nun di seberang pulau.
Saiful ternyata kembali ke rumah orang tuanya, di Bangka. Meski keluarga besar Bapak-ibunya asli orang Purwokerto. Waktu bekerja sebagai sales dulu, dia tinggal bersama kakek-neneknya. Berdasarkan obrolan yang terjadi selepas dia tidak menjadi sales stabilizer, Saiful bekerja untuk pamannya sebagai sopir pribadi, atau lebih tepatnya sopir keluarga si paman. Pasalnya dia tidak hanya mengantar pamannya, tetapi seluruh anggota keluarga yang membutuhkan jasa antarnya.
Sekarang Saiful bekerja di Restoran Padang di Batam. Dia bilang tugasnya sebagai koki. Terus terang aku kagum dengan berbagai keahlian berbeda yang dia miliki. Pertama, dia kutandai sebagai seorang yang ahli bicara. Saat menjadi sales, Saiful—sebelum aku berhasil menjual berjibun stabilizer—dia menjadi orang pertama yang berhasil menjual banyak stabilizer. Setahuku orang-orang yang supel dan pandai bicara akan mudah membujuk orang untuk membeli.
Keahlian kedua, dia pandai menyetir. Bahkan dia bilang memiliki SIM B2, karena awal mula pekerjaannya sewaktu di Bangka sebagai sopir truk berat. Dan sekarang dia menjadi koki yang tentu saja profesi tersebut pun tidak sembarang orang bisa. Kalau cuma memasak biasa, hampir semua ibu rumah tangga bisa memasak. Namun, kalau sudah berjuluk koki berarti dia itu ahli dalam hal masak-memasak. Bagaimanapun memasak untuk sendiri dengan memasak untuk orang lain dalam jumlah banyak akan terasa berbeda.
Aku pernah mengalami situasi harus memasak banyak, dan berakhir tidak enak. Padahal kata Bapake masakanku lebih enak ketimbang masakan mamake. Hal tersebut diamini oleh Tri. Kecuali Wiwi yang cenderung memilih masakan mamake. Makanya ketika kami kedatangan tamu, keluarga dari suami Wiwi, aku mendapat mandat memasak, meski pada akhirnya tersisa banyak karena masakanku itu kata Tri dan Bapake terasa hambar. Wiwi tak kalah menghujat, dia bilang masakanku rasanya seperti kubu utara dan selatan yang enggan disatukan.