Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #42

Hari Bahagia

Jantungku rasanya jungkir balik tidak karuan. Telapak tanganku mendadak berkeringat. Belum lagi kakiku tidak mau berhenti melangkah mondar-mandir ke sana kemari. Dari kamar aku ke melongok dapur. Di sana terlihat riuh oleh tetangga yang juga saudara, sibuk mempersiapkan hidangan untuk tamu. Ada yang sedang menuang air ke termos teh dan kopi, ada yang sedang menanak nasi, ada yang sedang mengaduk tumisan di dalam wajan. Pokoknya semua terlihat menghayati perannya masing-masing, sesekali saling berceloteh ramai.

“Lho, pengantinnya kok ke dapur? Sana-sana di kamar saja!” usir Lilik Mirah saat melihatku berdiri di ambang pintu dapur.

“Iya Lik,” balasku yang justru termangu di tempat.

“Kok belum dandan?” tanya Bu Gedhe Tan.

“Tukang riasnya belum datang,” sahutku meringis lalu berpamitan sebelum banyak pertanyaan lain menghujani.

Setelah dari dari dapur, aku ke ruang tamu, melongok keluar yang masih temaram. Apalagi ada tambahan atap non permanen selama hari pernikahanku nanti. Meski tanpa tirai tenda yang menutupi, yang penting para tamu tidak kepanasan atau kehujanan. Di sana terlihat bapake tengah mengobrol dengan adik iparku. Entah mereka sedang membicarakan apa. Yang jelas mereka dalam posisi membelakangiku.

Selanjutnya perjalananku menuju kamar mandi. Mendadak pagi ini aku jadi sering buang air kecil. Selepas itu tujuanku kamar Wiwi. Aku ingin melihat Sefi yang kutebak masih tidur. Ada untungnya dia masih tertidur, kalau dia sudah bangun pasti akan menguntitku terus menerus.  

Aku melihat ke arah jam dinding di ruang keluarga sebelum masuk ke kamar. Sekarang sudah jam setengah enam lebih dan perias pengantin belum datang, seperti janjinya akan datang pada pukul lima pagi.

Sebenarnya aku tidak mau dirias macam-macam, tapi mamake bilang sesekali tampil beda saat pernikahan bukankah tidak apa?

“Kamu harus tampil sangat cantik di acara pernikahanmu,” kata Mamake membuatku mempertimbangkan kembali tentang memakai make up ala pengantin yang kadang menurutku terlalu menor, alih-alih cantik. Membawa kesan seram.

“Yang penting tidak kayak pakai topeng,” kataku tersenyum dan mendapat sambutan senyum geli dari Mamake. “Kamu bisa minta itu sama tukang riasnya nanti.”

“Iya sih,” sahutku sambil mengira-ngira seperti apa wajahku saat sudah dirias nanti.

Lihat selengkapnya