Batam I’m In Love
Aku sama sekali tidak menyangka jika jam kerja suamiku gila-gilaan. Dia bekerja di Restoran Padang sebagai tukang masak, bahasa kerennya chef. Aku pikir dia hanya sebagai pelayan, kasir atau lebih mentereng seorang manager. Baiklah, posisi chef sudah terdengar bagus.
Kak Uti, kakak iparnya punya andil besar hingga dia bisa menjadi seorang chef. Kak Uti yang mempunyai bisnis restoran padang milik keluarga seolah tahu bakat terpendam Saiful. Tanpa ragu dia membiayai kursus si adik ipar hingga mahir. Selanjutnya impian Kak Uti memiliki cabang restoran padang di Batam terwujud. Bang Saiful langsung dipasrahi cabang baru Restoran Padang Bundo Uti di sana.
Meski suamiku hampir setara pemilik tapi jam kerjanya melebihi karyawan. Dia bekerja hampir 24 jam, sesuai jam buka restoran padang miliknya. Kadang aku mempertanyakan kenapa memaksakan diri semacam itu. Toh dia seperti direktur restoran tersebut. Bang Saiful hanya menjawab santai, aku harus memberi contoh pada karyawan. Dan ini Batam bukan Purwokerto.
Yah, mau bagaimana lagi. Kupikir setelah menikah akan ada masa menikmati bulan madu yang indah. Kenyataannya kami sangat jarang berduaan.
Kadang aku merasa bosan karena tinggal di rumah saja sendirian. Mau keluar masih belum paham seluk beluk Batam, takut tersesat. Hingga suatu ketika aku mendapat SMS dari teman tentang perkumpulan orang-orang yang berasal dari Purwokerto. Berkat mereka aku tidak sendiri lagi.
Lisa malah siap mengantar ke seluruh penjuru kota Batam yang luasnya kurang lebih 715 kilometer persegi. Jembatan Habibie menjadi menu wajib kunjungan pertama saat di Batam. Dia menyatakan siap menemani menelusur Jembatan Barelang nama lain dari tersebut yang menjadi landmark dari kota Batam. Barelang sendiri merupakan singkatan dari BA-Batam, RE-Rempang, GA-Galang. Meski sesungguhnya jembatan tersebut menghubungkan enam pulau secara sambung-menyambung, Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru.
Tak hanya itu, Lisa gencar menawarkan tempat wisata lain. Dari beberapa pantai, dia ingin aku datang ke pantai Nongsa. Lisa bilang dari pantai itu bisa melihat kota Singapura. Tak bisa menjenguk ke sana tak apa, yang penting sudah mencium bau Singapura dari dekat.
Rasanya tidak tega melihat Lisa yang berbusa-busa mengomporiku mendatangai objek yang dia rekomendasikan. Setelah mendapat izin dari Bang Saiful, aku pun berangkat melanglang Jembatan Barelang pada minggu ini, minggu berikutnya kami telah merencanakan ke Pantai Nongsa dan Ocarina Park.
Pada akhirnya aku malah menikmati masa bulan madu bersama Lisa dan Hanifah. Kami bertiga bak tiga orang petualang kota Batam. Senang tak terkira. Dan masa-masa tamasya bertemu jua dengan titik jenuhnya. Hanya tiga bulan saja bertahan. Selanjutnya mereka telah beralasan banyak kegiatan lain. Pun demikian denganku yang merasa tak enak terus-terusan minta izin keluar pada Bang Saiful.
Enam bulan berlalu. Aku kembali sendiri berpeluk sepi di rumah. Sempat terpikir untuk bekerja, apalagi ada teman perkumpulan yang menawari pekerjaan. Aku pun memberanikan diri meminta izin mencari kesibukan yang menghasilkan uang.
“Bang Saiful, apa boleh aku bekerja?” tanyaku saat dia pulang mengantar makan siang untukku. Oh ya, sejak menikah. Saiful ingin aku memanggilnya Abang. Jadinya Bang Saiful.
Aku memang dilarang memasak, dia bilang akan membawakan jatah makan saat siang dan sore. Biasanya aku memasak pada pagi hari saja untuk sarapan.