Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #44

Lingkar Keluarga Kecilku (2)

Selamat Tinggal Batam

Kontrakan kami sudah tampak seperti rumah tak berpenghuni. Hanya malam saja terlihat nyala lampu menemani pijar mata yang kelelahan menunggu sang fajar.

Sudah hampir satu tahun Bang Saiful tinggal di Bangka. Bekerja di pabrik peleburan kakaknya. Dua bulan sekali dia pulang. Aku pun masih bekerja di toko butik sebagai pengisi waktu luang.

Hari ini tak terduga Bang Saiful pulang di luar kebiasaan. Baru satu bulan kemarin dia datang, awal bulan ini dia sudah pulang lagi. Tentu kedatangannya yang di luar kebiasaan ini membuatku senang bukan kepalang.

Aku sudah pasti berusaha menjamunya dengan spesial. Menyiapkan makan dan selalu berusaha berpenampilan rapi dan wangi.

“Orang tuaku ingin segera punya cucu dari kita,” katanya sambil menikmati makan malam di meja yang merangkap sebagai meja tamu dan meja makan. “Sudah hampir dua tahun kita menikah, tapi kamu belum hamil.”

Kata-kata Bang Saiful sungguh mengguncang hati. Situasiku yang semula penuh bunga mawar, serta merta berganti dengan bunga kamboja.

“Mungkin masalahnya karena kita berjauh-jauhan, Bang,” dalihku untuk menenangkan. Aku menatapnya sekilas, kemudian fokus pada daging rendang yang mendadak liat seperti gumpalan karet. Apa pada bagian ini aku salah saat mengirisnya? Tidak tepat mengikuti seratnya?

Tidak ada tanggapan dari Saiful. Dia takzim menikmati rendang buatanku dengan wajah yang berkerut-kerut.

“Apa sebaiknya aku keluar dari pekerjaan dan ikut ke Bangka? Mungkin kalau kita dekat, peluang untuk hamil semakin besar.” Sebuah ide yang lama ingin kuutarakan tercetus juga

“Jangan!” tolaknya keras.

Mendengar kata penolakannya yang lantam, sungguh membuatku terkejut. Belum lagi air mukanya tersirat sorotan tidak senang. Aku menatapnya lama mencoba membaca sisi lain Saiful yang belum kupahami dengan benar.

Ekspresi macam apa itu? Reaksi ganjil apa ini?

Bukankah seharusnya dia senang jika aku di sana. Bisa melayaninya setiap hari. Bisa memasakkan meski menurutnya masakanku tidak enak. Dan yang terpenting bisa mulai program hamil. Sebagaimana keinginan orang tua Saiful.

“Aku tidak mau kita tinggal bersama orang tua. Aku mau punya rumah dulu baru membawamu ke sana,” sahut Saiful setelah berdeham. Sepertinya dia menyadari aku sedang merasa curiga.

“Lalu kapan waktunya?”

“Kamu pikir membeli rumah seperti membeli kacang?” kata-kata Bang Saiful meninggi di akhir lagi.

“Maksudku, kita bisa mengontrak rumah lagi kan? Atau kalau harus tinggal bersama ayah-ibu aku sama sekali tidak keberatan.”

“Tidak!” bantahnya ketus. “Kamu turuti saja kata-kataku.”

Berkali-kali mendapat balasan tidak ramah, dan yang terakhir serupa ultimatum, seolah aku ini istri yang selalu tidak patuh padanya. Reaksiku selanjutnya hanya menghela napas.

“Ngomong-ngomong, kapan masa suburmu?”

Mataku langsung mencari kalender, mencoba mengingat kapan terakhir kali aku mendapat haid. Setelah menghitung menggunakan tangan aku baru bisa menyebutkan tanggal lima belas besok perkiraan awal masa suburku.

“Tolong tandai, aku akan pulang pada masa-masa itu.”

Lihat selengkapnya