Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #45

Lingkar Kepiluan (1)

Nyanyian Pilu Keluargaku

Tepat saat Hari Raya Idul Fitri, orang tuaku kembali bertanya kapan Bang Saiful akan datang. Aku menjawab dalam bimbang tanpa bercerita mengenai status kami yang sedang dalam proses menuju pengadilan agama. Aku hanya menjawab, mungkin esok atau lusa, entah.

Biasanya mereka akan menggumam, kenapa bisa tidak tahu pasti. Bukankah seharusnya ada komunikasi yang di antara kami. Apa Saiful sama sekali tidak bisa minta izin sebentar datang kemari sungkem pada bapake-mamake sekaligus menjemput istri. Rentetan pertanyaan mirip gumaman itu sama sekali tak kutanggapi. Mereka pun hanya mendesah menatapku dalam kebingungan.

Hingga satu bulan lebaran berlalu, bapake-mamake akhirnya memberanikan diri bertanya secara mendalam. Mereka mendudukkan aku di ruang tamu dengan tatapan penuh harapan, pertanyaan yang selama ini menggantung menanti jawaban pasti akan memuaskan dahaga keduanya.

“Sebenarnya ada apa, Yun?” tanya Mamake pelan.

“Apa Mak?” balasku balik bertanya pura-pura tidak mengerti maksud mereka.

“Kamu dengan Saiful apa ada masalah?” perjelas Bapake.

Mendapat pertanyaan secara langsung demikian membuat bendungan di mataku retak menitikan air melalui celah-celahnya.

“Kok malah nangis,” ujar Mamake bingung.

“Pak, Mak...” tercekat sesaat. Keduanya menunggu kelanjutan kataku dengan tegang. “Kami akan berpisah.”

“Apa?” reaksi Bapake seperti dugaan. Dia terlihat memerah karena marah. “Saiful yang menalak kamu?”

Aku mengangguk, menahan isak.

“Ada apa Yun? Kamu sudah melakukan apa?” Mamake justru lebih mempertanyakan kebecusanku menjadi istri.

Sekali lagi aku hanya bisa berkata dalam bahasa tubuh melalui gelengan kepala. Sementara tanganku sibuk menyusut air mata.

“Mana HP-mu, biar Bapak bicara sama dia!” ucap Bapake yang berdiri mengulurkan tangan dengan tangan terlihat gemetar. Aku tahu hal itu terjadi karena Bapake sangat sedang menahan amarah.

“Tidak Pak,” tolakku. “Yun yang salah.”

“Kamu melakukan apa?” tanya Mamake mendesak dengan pertanyaan sama.

“Ini semua karena Yun tidak bisa punya anak.”

“Terlalu!” rutuk Bapake yang masih berdiri di tempat. Kini tangannya terlihat mengepal erat.

“Memangnya kamu sudah ke dokter untuk memastikan itu?” tanya Mamake yang kali ini membelaku.

Gelengan kepala membuat keduanya mendesah saling pandang. Bapake tak lagi terlihat menyala. Mungkin Bapake sedikit mengerti kegamangan seorang Saiful yang tentu segera ingin punya anak.

Lihat selengkapnya