Pagar Hangat yang Dirindukan

Lestari Senja
Chapter #1

Etalase Megah yang Dingin

Bunyi detak jam dinding di ruang makan terdengar bagai ketukan palu hakim yang mengadili keheningan. Rumah berlantai dua itu berdiri megah di kawasan perumahan elite, dengan arsitektur modern minimalis dan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi. Dari luar, ia tampak seperti perwujudan dari impian setiap orang tentang kemapanan. Namun di dalam, pada pukul enam lewat tiga puluh menit pagi, tempat itu tak lebih dari sebuah lemari es raksasa. Dingin, kaku, dan beku.

​Di meja makan berbahan marmer putih, empat orang duduk mengelilingi hidangan sarapan yang disiapkan oleh asisten rumah tangga yang sudah pulang sejak subuh. Tidak ada suara denting sendok yang beradu riang dengan piring. Tidak ada tawa yang tumpah, atau perebutan selai cokelat yang biasa menghiasi rumah-rumah hangat.

​Semua orang sibuk dengan layar masing-masing.

​Bram, kepala keluarga, duduk di ujung meja dengan kemeja kerja yang sudah tersetrika rapi tanpa cela. Matanya terpaku pada tablet sepuluh inci yang menampilkan grafik bursa saham dan tumpukan surel kantor. Jari telunjuknya bergerak cepat, menggeser dan mengetuk layar dengan raut wajah tegang. Baginya, pagi hari adalah medan perang efisiensi. Waktu adalah angka, dan angka adalah pembuktian harga diri.

​Di sisi kiri meja, Siska, istrinya, sedang merapikan blazer batiknya sambil sesekali mengetik pesan di ponsel dengan kecepatan tinggi. Sebagai seorang manajer di perusahaan logistik multinasional, dunianya tidak pernah berhenti berputar. Tatapannya dingin, lurus ke layar ponsel, seolah-olah pria di ujung meja di hadapannya hanyalah sebentuk bayangan tak kasat mata. Mereka berada di ruang yang sama, menghirup udara yang sama, namun terpisah oleh dinding tak kasat mata bernama ego dan kelelahan mental.

​"Papa nanti pulang malam lagi?"

​Sebuah suara lirih memecahkan keheningan. Itu bukan suara ucapan langsung, melainkan sebuah notifikasi pesan singkat yang masuk ke ponsel Bram.

​Bram melirik ponselnya yang berdenting. Pesan itu dikirim oleh Siska. Wanita yang duduk hanya berjarak dua meter darinya itu memilih mengirim teks daripada membuka mulut.

​Tanpa mengalihkan wajah dari tabletnya, Bram mengetik balasan dengan satu tangan. “Ada meeting dengan investor dari Jakarta sampai jam 9 malam. Jangan kunci pintu pagar.”

​Siska membaca balasan itu, mengembuskan napas pendek yang sarat akan sinisme, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tak ada bantahan, tak ada pertanyaan lanjutan. Pertanyaan itu pun diajukan bukan karena rindu atau peduli, melainkan sekadar kalkulasi logistik siapa yang harus membawa kunci cadangan rumah. Rasa ingin tahu tentang keadaan satu sama lain telah lama terkubur di bawah tumpukan target bulanan kantor.

Lihat selengkapnya