Pagar Hangat yang Dirindukan

Lestari Senja
Chapter #2

Memori Dinding Ruang Tamu

Langkah kaki Alya tersendat di lantai pualam ruang tamu. Di tangannya, sebuah ponsel pintar dengan pelindung berwarna bening yang sudah mulai menguning digenggamnya erat-erat. Di layar itu, sebuah notifikasi dari grup obrolan kelas kembali menyala.

​“Lihat nih, si Cupu hari ini pakai kacamata baru atau masih pakai barang antik itu?”

“Palingan masih yang itu. Kan dia gak punya kaca spion di rumahnya.”

​Alya buru-buru membalikkan layar ponselnya menghadap telapak tangan. Dadanya berdesir perih. Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang mendadak memendek. Sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari pintu depan dan menghadapi kenyataan pahit di sekolah, tatapannya tidak sengaja naik, tertuju pada sebuah bingkai kayu berukuran besar yang menggantung di dinding ruang tamu.

​Itu adalah sebuah foto keluarga. Foto yang diambil sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika Genta masih mengenakan seragam merah putih kelas satu sekolah dasar, dan Alya sendiri masih berambut kuncir dua dengan senyum lepas tanpa beban.

​Dalam foto itu, mereka berempat berdiri di latar belakang sebuah pantai dengan matahari terbenam yang memendarkan warna jingga keemasan. Bram, ayahnya, mengenakan kemeja santai dengan lengan digulung, merangkul pundak Siska yang tertawa lepas menghadap kamera. Tidak ada guratan lelah, tidak ada ketegangan ego, tidak ada gawai di tangan siapa pun. Di foto itu, mereka adalah definisi dari sebuah kehangatan yang utuh. Pagar pelindung yang nyata.

​Alya melangkah mendekat, seolah tersedot oleh pusaran waktu masa lalu. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar, menyentuh permukaan kaca bingkai foto tepat di bagian wajah ibunya yang sedang tersenyum.

​“Dulu... kita pernah sebahagia ini, ya?” bisik Alya pada ruangan yang sunyi.

Lihat selengkapnya