Pagar Hangat yang Dirindukan

Lestari Senja
Chapter #3

Ruang Sunyi di Meja Makan

Malam hari seharusnya menjadi waktu di mana sebuah rumah mengembuskan napas lega. Waktu di mana pintu-pintu dikunci untuk menjaga kehangatan di dalam tetap utuh. Namun, bagi keluarga Bram, malam hanyalah perpanjangan dari kesibukan siang yang melelahkan, dipindahkan ke bawah lampu gantung kristal yang mahal namun terasa redup.

​Bram baru saja meletakkan tas kerjanya di sofa kulit. Wajahnya kaku, garis-garis kelelahan tercetak jelas di dahinya. Di ruang makan, Siska sudah duduk menghadapi laptopnya, jari-jarinya menari lincah di atas papan ketik. Aroma sate ayam yang dibeli asisten rumah tangga tercium di udara, namun tak ada yang berniat menikmatinya bersama.

​"Genta belum pulang?" tanya Bram tanpa menoleh, sambil melonggarkan dasinya.

​Siska berhenti mengetik sejenak, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. "Tadi katanya ada latihan basket. Tapi aku ragu. Paling hanya nongkrong tidak jelas."

​"Kamu itu ibunya, harusnya lebih tahu," sahut Bram datar. Ada nada menyalahkan yang terselip tipis di sana.

​Siska mendengus, akhirnya menutup laptopnya dengan suara keras. "Kenapa selalu aku? Papa juga jarang di rumah. Papa tahu tidak kalau nilai matematika Genta merah lagi? Papa tahu tidak kalau Alya makin hari makin aneh, mengurung diri terus di kamar?"

​Bram menghela napas panjang, sebuah tanda bahwa ia sedang menahan ledakan emosi. "Aku bekerja keras seperti ini untuk siapa, Siska? Untuk membayar sekolah mereka yang mahal, untuk rumah ini, untuk semua fasilitas ini. Jangan buat aku merasa seperti orang asing yang hanya menyetor uang."

​"Tapi nyatanya memang begitu, kan?" suara Siska merendah, namun setiap katanya terasa tajam. "Kita semua orang asing di sini."

Lihat selengkapnya