PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #1

BAYANG-BAYANG JAHANAM

Malam merobek sunyi dengan derap kaki yang menghantam tanah tanpa ampun. Laras Prabatmi berlari, napasnya memburu di tenggorokan yang terasa kering dan terbakar.

"Mau kemana kau, lonthe???" teriak seorang lelaki.

Laras menoleh. Di belakangnya, bayangan-bayangan gelap mengejar bagai gerombolan serigala lapar. Puluhan lelaki bertampang buas membelah gulita, mata mereka menyala oleh amarah dan nafsu membabi buta.

Napas sesak di antara udara malam yang dingin tak dihiraukannya. luka dikulit memancing perih, namun rasa takut jauh lebih tajam daripada luka. Ia memaksa terus berlari, menerobos kabut malam, sementara dunia seakan menutup pintu bagi pelariannya yang senyap.

"Berhenti!!!" sergah mereka lagi.

Pelarian wanita itu berakhir buntu. Di antara debu yang mengepul, tawa-tawa serak pecah memecah sunyi. Wajah-wajah yang dipahat keras oleh cuaca, dengan sorot mata lapar yang menyala dalam gelap. Laras berbalik dan perempuan itu makin kalut menatap senyum tajam terukir di wajah mereka, mengamati setiap tanda keletihan yang mulai melumpuhkan pertahanannya.

"Mau kemana, cantik?" goda mereka lagi.

Keputusasaan yang terpancar dari mata perempuan itu seolah menjadi kepuasan tersendiri bagi mereka yang terbiasa dengan kekerasan. Tiap langkah mundur Laras disambut dengan gerak maju yang penuh perhitungan, membiarkan keheningan hutan memperkuat rasa terpojok yang kian nyata.

"Kamu tidak akan bisa lolos, Laras!" seru seseorang dibelakang gerombolan itu. Mereka menyibak, memperlihatkan sesosok lelaki yang muncul dan mendekatinya. Wajah lelaki itu amat dikenalnya.

"Mas Hendra..." erang Laras, lirih.

"Ya, aku. Kenapa? Kamu terkejut?" ejek Mahendra.

"Mas, apura aku. ojo ngukum aku kaya ngene," rengek Laras, menghiba. Namun Mahendra malah tertawa, disusul tawa para lelaki bertampang buas yang menikmati detik-detik runtuhnya pertahanan buruan mereka.

"Lihat pelacur kita ini, memohon pada kita untuk tidak merogolnya" ejek Mahendra menatap para lelaki itu. Mereka kembali tertawa-tawa. Mahendra kembali memandang Laras yang ketakutan, tersudut di dinding. "Padahal, kau sendiri yang menyerahkan sesuatu yang semestinya menjadi hakku pada Jenar... dan sekarang, kamu memintaku untuk tidak menghukummu?"

"Mas, aku tahu aku salah! Aku sing salah! Makanya aku minta maaf telah menyakiti perasaanmu!" jerit Laras mulai putus asa. Kawanan lelaki itu mulai mengurungnya.

"Kau semestinya tidak hidup sampai hari ini, Laras! Hukum tabur tuai itu ada!" geram Mahendra memancarkan wajah sinisnya, "dan sekarang, rasakanlah!!!" ejek lelaki itu kemudian berseru pada kawan-kawannya, "telanjangi dia!!!"

Laras menjerit-jerit ketika kawanan lelaki itu menyerbunya. Teriakannya teredam oleh geram dan tawa para lelaki yang merobek-robek pakaian perempuan itu, mencampakkan serpihan-serpihak kain tak berujud itu di lantai sekitar. Laras terus menangis meminta ampun dan histerislah dia saat kawanan lelaki itu mulai melecehkannya.

Laras mulai larut dalam lautan gelora yang menggejolak. Jamahan dan belaian serta remasan para lelaki yang menggerayangi tubuhnya menerbitkan hasrat purba yang harus dituntaskan. Mahendra tertawa-tawa melihat perempuan yang disiksa birahi itu.

Lihat selengkapnya