Dor!!! Dor!!! Dor!!!
Di lantai tiga Stadion Gajayana, sunyi merajut fokus. Hening memeluk udara ketika moncong pistol menatap lurus ke sasaran. Napas ditarik perlahan, menyatu dengan detik waktu, sebelum sebuah ledakan kecil memecah sepi dan melesatkan peluru mencari titik fajar pada lembaran target putih. Udara dingin menyentuh kulit di ketinggian lantai tiga.
Seorang lelaki dengan tatapan mata yang terlindung oleh shooting glasses, terkunci rapat pada satu titik hitam di ujung pandang. Detak jantungnya melambat, mencari detik yang paling pas untuk menekan picu. Batang barrel itu diam kokoh dalam dekap tangan yang sabar. Desau angin tertelan oleh fokus pikiran yang membaja.
Dor!!!
Sekali lagi, letupan singkat merobek senyap, membawa harap menuju sasaran. Asap tipis menguar perlahan di udara membawa senyum tipis yang terbit dari bibir lelaki itu. Empat lubang kecil pada electronicsmart target menjadi saksi bisu dari sebuah ketepatan.
Lelaki itu mengangkat wajah dan menyunggingkan senyum datar. Kegembiraannya terjeda sesaat oleh getar ponsel yang terasa di kantung. Dia menekan tuas pengaman pada senjata itu kemudian meletakkan pistol di meja. Lelaki itu tanggap merogoh kantung dan mengeluarkan benda itu kemudian menekan tombol penjawab lalu mendekatkan speakernya ke telinga.
"Halo," sapa lelaki itu.
"Kamu masih di Gajayana?" tanya suara lelaki lain dari seberang.
"Iya Bos. Latihanku belum selesai. Ada apa?" tanya lelaki itu.
"Bisa singgah ke rumahku? Ada yang harus kita diskusikan," ujar suara diseberang terdengar datar. Lelaki itu menghela napas dan mengangguk.
"Oke, setelah sesi latihan selesai, saya segera kesana," jawab lelaki itu pada akhirnya.
"Oke, aku tunggu," sahut suara diseberang dan percakapan selulerpun berakhir. Lelaki itu menghela napas sejenak kemudian menekan lagi tombol-tombol pada layar sentuh ponselnya. Sejenak terdengar suara dengung dan tak lama kemudian muncul suara perempuan.
"Ya Pa," jawab suara perempuan itu.
"Ma, aku belum bisa menjemputmu," ujar lelaki itu.
"Bukannya kamu di Klojen, kan? Terus?" tuntut suara perempuan itu.
"Lin..." ujar lelaki itu.
"Oh, Bos Lin nyuruh kamu ke rumahnya. Iya kan?" tebak suara perempuan itu. Lelaki itu tersenyum. Tebakan istrinya memang selalu benar. Entah kenapa perempuan itu selalu mampu menebak setiap peristiwa yang menimpa suaminya. Lama tiada suara hingga terdengar lagi suara perempuan, "ya sudah. Itu pasti penting. Aku sama Galuh balik sendiri."
"Ya, makasih Ma, udah pengertian banget," sahut lelaki itu merendah.
"Lanjutkan kerjamu, Jagoan! Oke? Daaaahhh..." timpal suara perempuan itu dan percakapan itu pun berakhir. Lelaki itu memasukkan kembali gawai komunikasi itu di kantung celana panjangnya.
Lelaki itu menghela napas dan menatap arlojinya yang menunjukkan pukul tujuh. Senja telah melipat tirainya, menyisakan jejak jingga yang perlahan tertelan pekat. Langit di atas kota Malang kini menjadi panggung bagi sunyi yang baru. Di batas pandang, lampu-lampu jalan mulai menyala, berpendar lembut lantas memantul di kaca-kaca jendela.
Ini adalah saat di mana kepenatan hari perlahan luruh, digantikan oleh aroma masakan rumahan dan tawa yang menyelinap dari balik pintu. Udara membawa kesejukan, seolah alam sedang berbisik bahwa sudah waktunya untuk pulang dan memeluk diri sendiri.
Tapi tidak bagi Partawijaya Dananjati, lelaki yang menatapi jarum-jarum penunjuk waktu di arlojinya. Tugas baru sudah menanti, dan dia harus menuntaskan kegiatannya malam itu.
***
Sulastri Puspawicitra menyimpan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Seorang gadis berusia 12 Tahun berlari-lari mendekat. Perempuan berjilbab pashmina itu menyambutnya.
"Tadi itu, Papa ya?" tanya gadis belia itu. Lastri mengangguk kemudian mengulas senyumnya. Gadis belia itu menghela napas sejenak dan berpikir.
"Tumben Papa masih di tempat latihan. Biasanya kan jam segini sudah di rumah," celetuk anak perempuan itu. Lastri sejenak berpikir pula namun jawaban tak kunjung ditemukannya. Jilbaber itu mendesah.