PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #3

PELAMPIASAN YANG TERGUGAH

Dunia di luar sana mulai kehilangan riuhnya. Kendaraan yang berlalu-lalang tak lagi saling berkejaran, melainkan mengalir tenang laksana sungai di malam hari. Jam dinding berdetik dengan ritme yang lebih lambat, mengiringi detak jantung yang mulai seirama dengan kedamaian. Di bawah pendar lampu temaram, pikiran-pikiran yang berserakan sepanjang hari mulai dirapikan. Ini adalah ruang jeda yang jujur—waktu terbaik untuk mensyukuri hal-hal kecil yang sering terlewat, atau sekadar menikmati secangkir teh hangat di teras rumah yang sejuk.

Lelaki itu melajukan Toyota Kijang Innova yang dikendarainya menuju Ijen Boulevard. Pemandangan gaya eropa langsung menyapa begitu mobilnya memasuki kawasan itu. Pendar cahaya lampu taman bergaya klasik memantul lembut, menyinari barisan pohon palem yang menjulang tinggi secara simetris. Di kiri dan kanan jalan, rumah-rumah bergaya Indische Empire dan Art Deco menampakkan keanggunannya.

Malam di Bergenbuurt[1] bukanlah sekadar tentang gelap dan lampu kota, melainkan sebuah ruang puitis di mana detak sejarah kolonial berpadu dengan modernitas. Di jantung kawasan elit ini, keindahannya tidak pernah lekang oleh zaman, terus bercerita tentang sebuah kota yang cantik, anggun, dan penuh kenangan.

Parta mengarahkan kendaraannya ke sebuah rumah bergaya kolonial yang berdiri dengan angkuh namun menenangkan. Dinding putihnya yang kokoh dan jendela-jendela besar berdaun ganda mengunci pesona masa lampau. Rumah ini adalah saksi bisu zaman yang merangkai kisah romantis antara arsitektur Eropa dan kehangatan tropis Nusantara.

Seorang wanita bermata sipit berdiri di teras saat Partawijaya keluar dari mobilnya dan menaiki undakan tangga itu.

"Siu Lan? Kok disini?" tukas Parta.

"Heh, aku disuruh jadi penerima tamu," jawab Siu Lan, membuat Parta tertawa.

"Bos Lin?" tanya lelaki itu menyebut panggilan akrab sahabatnya.

Siu Lan melengos ke pintu, "biasa, lagi ditemenin sama cabo-cabo di ruang tamu."

Wanita itu mengajak Parta masuk. Mereka berdua menyeberangi ruangan-ruangan berlangit-langit yang menjulang tinggi dan sudut atapnya yang curam bukan hanya sekadar estetika, melainkan siasat arsitektur untuk menjinakkan terik matahari tropis. Lewat celah-celah bovenlicht di atas pintu, cahaya malam menyusup dengan lembut, melukis bayang-bayang geometris di lantai tegel yang dingin.

Disana duduk santai seorang lelaki bermata sipit yang berdiri di teras. Dia adalah Lucas Lin Kinnamon, pemilik PT. Hok Lok Siew Tbk yang memberikan kepercayaan pada Partawijaya sebagai presdir di perusahaannya.

"Sini Bro," panggil lelaki itu.

Parta langsung tahu istilah cabo-cabo yang dikatakan istri sahabatnya itu saat dia duduk ditempat yang disuruh Lin. Ternyata lelaki berdarah Tanglang-Saxon itu sementara menikmati tayangan vulgar di Channel Vivid TV ditemani jejeran botol bir yang tegak diatas meja.

"Ya Allah, Bos! Diskusi perusahaan kok malah..." seru Parta memasang wajah keruh.

Lin (panggilan akrab lelaki itu) hanya tertawa, "eh, Lastri nggak ngambek kan? Biasanya dia pasti merajuk kalau kamu belum tiba di rumahmu lewat dari jam delapan," oloknya mengalihkan pembicaraan.

"Sekali ini, Lastri memahamiku," kelit Parta sembari duduk, "dia sudah tahu, kalau nggak mematuhi perintah atasan, bisa-bisa aku dipecat dan dia tak mendapatkan lagi belanja bulanan."

Lin tertawa lepas mendengar jawaban sahabat sekaligus rekan kerja yang paling dipercayai itu. Terdengar deheman dari perempuan yang merasa dirinya seperti seekor nyamuk pelengkap suasana malam.

"Aku ke kamar dulu ya? Ngantuk," pamit Siu Lan, datar. Lin hanya mengangguk dan sang istri berlalu. Tatapan Parta mengikuti punggung wanita itu hingga dia menghilang di pintu kamar.

Di tengah temaram ruang tengah yang dihangatkan lampu gantung klasik, dua lelaki itu duduk mempelajari lembar-lembar kertas kalkulasi. Partawijaya mengusap wajahnya perlahan, membiarkan jemarinya menelusuri kerutan di dahi yang kian dalam. Suaranya berat, memecah keheningan malam bagai gemeresik angin yang menggoyang dedaunan kering.

"Tantangan ini tak lagi sekadar tentang fluktuasi harga pasar," ujar Parta lirih, bagai menyuarakan beban berat yang dipikul. Tatapannya beralih dari lembaran-lembaran itu ke wajah Lin yang terus menggeratakinya, "ini tentang ribuan kubik kayu yang harus kita olah dengan integritas, dan kelangsungan hidup para pekerja yang bergantung pada setiap lembar papan yang kita kirimkan," sambungnya menunjuk deretan angka dan grafik yang terpampang pada lembaran di atas meja

Lin manggut-manggut pelan, jemari telunjuknya mengetuk meja kayu jati tua itu, menciptakan irama yang selaras dengan detak jantung yang berpacu.

"Tapi, Parta... kita juga nggak bisa berpangku tangan menunggu masalah ini reda," sahut Lin tenang, namun tegas.

Parta menghela napasnya lalu mengangguk, "kecuali menata ulang fondasi bisnis kita."

"Tapi kamu bisa menemukan celah ditengah keterbatasan logistik? Bahan baku semakin langka, Bro!" tuntut Lin.

"Kita harus memastikan setiap tebangan potongan kayu yang kita terima dari pemasok sudah melalui proses peremajaan yang bertanggung jawab," sahut Parta kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan dan menekan-nekan lembaran yang menggeletak di meja.

Lihat selengkapnya