PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #4

SELA KAYU DI ANTARA MEREKA

"Bude, kulo pamit tindak rumiyin," seru Laras Prabatmi yang telah melangkah menjinjing tas busa Avalon yang menyimpan busur dan peralatan panahan lainnya. Wanita itu mengenakan kaos jersey dry-fit hitam dan celana panjang sport chino. Kedua kakinya dibalut sepatu kets. Hari ini Sabtu, dia punya jadwal latihan memanah.

"Ya, sing ngati-ati neng dalan ya, Nduk," balas Dian Pramesti dari dalam dapur. Baru saja Laras mencapai pintu depan, sang bibi keluar, "ingat yo, Nduk. Kowe ki lagi pasa prihatin. Diati-ati sing mbok mangan," pesannya.

"Iya, Budhe..." jawab Laras kemudian melangkah menyeberangi halaman. Sesampainya di jalan, sebuah Toyota Kijang Innova mendekat dan tiba-tiba berhenti didepannya. Kaca sampingnya menurun dan sebentuk wajah tampan yang menggenggam setir. Laras terpaku menatapnya. Disisi pemilik wajah tampan itu nampak seorang jilbaber yang dikenalnya saat berkenalan di Mall Dinoyo.

"Mbak Lastri," gumam Laras menyebut nama jilbaber itu.

"Hai, Tanteeee..." seru Galuh dari sisi jok tengah, melambai ke arah Laras. Perempuan itu tersenyum dan balas melambai.

"Masuk, yuk?" ajak Lastri.

Laras melangkah memutari dan tiba disisi depan mobil. Lastri menengok memamerkan senyum lebarnya.

"Mbakyu tahu dari mana rumah saya?" tanya Laras.

"Lho? Kemarin Jeng Laras bilang tinggal di Mertojoyo? Lha aku lacak aja lewat nomormu," jawab Lastri santai memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan Google Maps, membuat Laras manggut-manggut menyadari betapa kecanggihan teknologi telah mampu mengalahkan kompetensi spasial seseorang dalam membaca peta.

Laras kemudian membuka pintu samping dibagian tengah kemudian masuk dan meletakkan tas busa Avalonnya dibagian belakang. Perempuan itu duduk di jok tengah, bersebelahan dengan Galuh. Si pengemudi kemudian menatap Laras melalui kaca spion dalam.

"Saya Partawijaya, suaminya Lastri. Panggil saja aku Parta," ujar Parta kemudian bertanya, "kamu latihan di Pandanwangi?"

"Iya, Mas," jawab Laras lalu bertanya, "kok tahu?"

"Hanya menebak saja. Berarti kamu latihan di Seloka Andanu Rentangan?" jawab Parta kemudian melirik arloji, "dua puluh menit, ya?"

Laras hanya mengangguk, sementara Galuh melirik tas busa Avalon yang menyampir di dinding bagasi belakang kemudian menatap perempuan disampingnya.

"Tante? Isi tas itu, peralatan memanah ya?" tanya Galuh.

Laras menatap gadis belia itu lalu tersenyum dan mengangguk. Kendaraan itu kemudian bergerak pelan meninggalkan tempat itu. Lastri menengok ke belakang.

"Aku mau daftarin Galuh kesana juga," ujar Lastri.

Laras tersenyum, "kelasnya dimulai Jam 9 sampai Jam 10 untuk anak-anak," timpalnya.

Lastri menatap suaminya, "yah, si Papa... terlambat kita Pa," rajuknya.

"Ya, kan nanti lantihannya bisa minggu depan di jam itu," kelit Parta. Kendaraan itu melaju dijalanan. Lelaki itu kembali mengajukan pertanyaan sambil memperhatikan jalanan.

"Lastri bilang, kamu punya lahan produksi kayu. Apakah benar?" tanya Parta.

"Iya, Mas... di Ligaran," jawab Laras lagi.

Lihat selengkapnya