PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #5

JEJAK ALIANSI DI MEJA KAYU

Sedan Timor S515 yang ditumpanginya menyusuri Jalan Ir. H. Juanda kemudian membelok memasuki pelataran Hotel Royal Bogor dan berhenti di porch. Didalam kendaraan itu, Galih Sungkai merapikan jas bedahan dan jarik supit urang yang membalut tubuhnya. Totopong yang bertengger dikepalanya sudah lengket bagian dalamnya dengan rembesan keringat. Lelaki parobaya itu berupaya menampilkan kesan baik dengan mengenakan pakaian terbaiknya demi kelancaran usahanya.

Lelaki parobaya itu keluar dari mobil menjinjing koper berisi dokumen-dokumen yang diperlukan dan melangkah melintasi kanopi drop-off, mendaki undakan tangga memasuki gedung. Ayunan kakinya yang dibalut terompah mendekat ke Concierge dan berhenti didepan meja FO.[1]

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" sapa salah satu pramutamu, ramah dari seberang meja.

"Apa tamu yang bernama Partawijaya Dananjati menginap di hotel ini?" tanya Galih Sungkai, ragu. Pramutamu itu mengangguk.

"Sebentar ya, saya cek dulu," ujarnya kemudian membuka-buka buku daftar tamu, sementara Galih Sungkai merogos jam saku dari kantung bedahannya dan membuka klep memperhatikan jarum-jarum penunjuk waktu. Tak lama kemudian, pramutamu tersebut mengangkat wajah menatap lelaki parobaya itu, "oh, ada Pak."

"Bisa berikan informasi padanya, kalau klien yang ditunggunya sudah berada di lobby," ujar Galih Sungkai kembali. Petugas itu mengangguk dan langsung meraih gagang telepon dan menekan dial panelnya. Galih Sungkai langsung berbalik melangkah menuju lobby dan duduk di sofa yang memanjang.

***

 

Parta sementara menatap penampilannya di cermin ketika pesawat telepon yang berada di nakas berdering. Lelaki itu menoleh sejenak ke gawai telekomunikasi itu. Lastri yang duduk disisi ranjang, sontak meraih gagang dan mendekatkan benda itu di telinganya.

"Halo," sapa Lastri.

"Dengan Pak Partawijaya?" tanya resepsionis hotel.

"Saya istrinya," jawab Lastri.

"Oh, Bu... mohon diberitahukan kepada Pak Partawijaya. Tamunya sudah menunggu di lobby." pesan resepsionis tersebut.

"Baik, saya sampaikan. Terima kasih," sahut Lastri kemudian meletakkan gagang telepon ke cradle lalu menatap suaminya, "Pa, tamunya sudah ada tuh di lobby."

Parta langsung mengangguk dan merapikan sedikit tampilannya kemudian menatap istrinya, "Tri, ikut nggak?" tanya lelaki itu.

"Aku disini saja, Pa." Jawab Lastri menganggukkan dagu ke pintu, "sudah sana, nanti tamunya pergi."

Lihat selengkapnya