Tubuh Nyi Sekar Sabrang terguncang-guncang dalam permainan birahi bersama Jalu Wisesa. Si pengawal pribadi keluarga itu terus menyodokkan benda miliknya ke dalam lubang gairah istri majikannya penuh semangat. Keduanya melakukan penyatuan tubuh itu dengan gaya menyamping dimana Nyi Sekar Sabrang memunggungi pejantannya sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar membiarkan Jalu Wisesa mengobrak-abrik gua cinta itu dengan tongkat birahinya yang terus menyodok tanpa henti.
Tiada lelah terasa meski tubuh mereka berdua bermandi keringat. Ini sudah persetubuhan yang ketiga kalinya dan mereka terus merengkuh dayung gelora memaksa biduk birahi dilautan asmara berlayar cepat. Tiba-tiba Jalu berhenti dan mencabut benda panjangnya.
"Dih, naha eureun? Tanggung pisan euy!" protes Nyi Sekar Sabrang, memelototi si pejantan.
"Pindah gaya, Euis. Hayu urang ngarangkep gaya anjing kawin?" pinta Jalu, menyebut nama asli betinanya itu. Nyi Sekar Sabrang bangkit dan kali ini menungging. Sang pejantan kemudian memasukkan kembali batang kelelakiannya menyodok lubang kawin betinanya. Mereka kembali berpacu.
"Aduh, Euissss... nikmat pisan henceut anjeun ieu," erang Jalu sambil terus mengawini istri majikannya itu. Nyi Sekar Sabrang sendiri tak lagi peduli. Perhatiannya tak lagi berada pada kegiatan yang digelutinya saat ini. Ingatannya justru berputar ke tanggal 03 September 2021, dimana wanita itu tergoncang hebat saat sang kekasih memberitahu alasan keduanya harus mengakhiri percintaan mereka.
***
03 September 2021...
Euis Sartika menangis tanpa suara, saat Mahendra Danuraga memberitahu alasan kepergiannya dari Lembur Tumuwuh. Gadis itu memeluk lututnya, menyandarkan dagu dari wajah yang basah dengan airmata pada kedua lutut yang bertaut.
"Ampun, Neng. Teu bisa nolak kahayang Bapa urang," pungkas Mahendra, menunduk lesu.
"Mestinya, Akang bilang teh dari dulu. Supaya Euis tidak berharap," sesal Euis kembali terisak-isak. Mahendra memahami perasaan gadis itu. Tapi perintah ayahnya tak bisa dibantah. Mulai besok, dia harus meninggalkan Lembur Tumuwuh untuk pindah dan menetap di Dukuh Kinasih, lereng Gunung Goro-Goro sebagai salah satu syarat yang diajukan Sang Polo agar Durta bisa mengalihkan wilayah selatan cagar alam Alas Sanggrahan menjadi lahan Hutan Hak pribadinya.
"Tapi maneh ulah melang. Setelah pernikahanku dengan Laras terlaksana, aku akan menikahi kamu dan memboyongmu ke Dukuh Kinasih sebagai parekan. Kamu mau, kan?" hibur Mahendra sekaligus membujuk kekasihnya. Euis Sartika menimbang-nimbang bujukan itu.
Menjadi perempuan yang diperistri di luar pernikahan formal bukan menjadi keinginannya. Statusnya akan berada dibawah Laras Prabatmi sebagai garwa padmi dari kekasihnya. Namun itu jauh lebih baik ketimbang tidak mendapatkan apa-apa.
"Baiklah Kang Hendra," pungkas Euis Sartika mantap, "asalkan kau penuhi janjimu, aku rela kau jadikan garwa leutikmu!"
Mahendra Danuraga tersenyum dan lelaki itu maju menyergap bibir kekasihnya, memagut daging lembut itu, mengulumnya dengan penuh perasaan. Euis Sartika perlahan memejamkan mata, menerima dan menikmati perlakuan kekasihnya yang sebentar lagi tak akan dimilikinya.
***