Laras Prabatmi terbangun. Kedua mata lentiknya yang sendu berkerjap-kerjap hingga akhirnya menyadari dirinya duduk sendirian di dampar Sasana Reningga, mengenakan busana pengantin gaya Keprabon. Dia menatap ke depan, kearah mertua dan suaminya yang justru mengenakan setelan jas biasa. Keduanya duduk di kursi yang membujur di lantai pendopo itu. Hanya mereka berdua saja!
"Mas Hendra? Romo?" bisik Laras tak percaya.
"Kenapa Laras? Kaget?" balas Mahendra Danuraga kemudian bangkit dan melangkah mendekati panggung pelaminan itu. Lelaki tersebut lalu jongkok didepan Laras.
"Ap-apa yang kamu lakukan?" erang Laras menatap jemari bekas suaminya yang menyentuh dan membelai paha yang terbalut jarik tumpul malangan. Pengantin itu pias menyaksikan Mahendra menyibak kain itu hingga kedua kaki jenjang milik Laras terpampang keluar.
"Mas Hendra! hentikan! Kamu sudah gila, ya???" sergah Laras saat Mahendra melebarkan dua tungkai kakinya dan menghirup aroma yang menebar dari lubang turuk perempuan itu yang kini merekah. Laras sendiri hanya bisa menggigit bibirnya saat Mahendra mendongak, menatap bekas istrinya dan tersenyum.
"Harum sekali lubangmu, Laras," komentar Mahendra diiringi sekehan tawa ayahnya.
"Mas!!! Dasar kamu..." sergah Laras lagi, namun bungkam melihat Durta Danuarta yang merokok sejenak kemudian bangkit dan melangkah mendekati mereka berdua.
"Romo mau apa?" erang Laras lirih dan takut.
Durta Danuarta tersenyum dan mencondongkan tubuh parobayanya ke depan Laras dan jemarinya memelorotkan pasemekan kemben itu, menyebabkan bongkah membulat didada sang menantu terpampang jelas.
"Romo!! Ja..." pekik Laras kaget.
"Hendra, disini juga wangi," sahut Darta Danuarta kemudian mengarahkan mulutnya, langsung mengulum puting dipucuk dada kanan bekas menantunya. Laras langsung mengerang kegelian, "Rommm... moooo... eeehhh."
Mahendra bangkit dan tangannya meraih piring berisi buah-buahan yang menggeletak meja kecil disisi dampar. Dia membawa piring itu dan menyodorkannya pada Laras. Mahendra menatapi ayahnya yang sibuk menyusu di dada kanan bekas menantunya itu.
"Pah, jangan ganggu Laras dulu. Biarkan dia makan," tegur Mahendra memaksa Durta Danuarta menghentikan kegiatannya. Laras hendak menaikkan lagi kemben dan menutupkan jarik, namun kedua lelaki itu menahan gerakannya.
"Jangan Nduk, begini lebih baik," sanggah Durta Danuarta.
"Iya, lubangmu yang merekah, lebih enak dilihat," sambung Mahendra.
"Brengsek kalian berdua! Bukankah kalian sudah tewas di Kawah melir???" tukas Laras, ketus menatap sinis pada bekas suami dan morotuwonya.
"Tidak perlu kaget, kami memang sudah mati. Tapi Laras, ada seseorang yang juga menginginkanmu," jawab Mahendra.
"Siapa???" cecar Laras, meronta sejenak.
"Aku," sahut seseorang dari kegelapan diluar pendopo itu. Kedua lelaki itu membalik menoleh ke kegelapan, begitupun dengan Laras. Dari kegelapan muncul sosok wanita mengenakan kebaya dan jarik khas Sunda berusia sepantar dengan Laras.
"Siapa kau?" desis Laras.
Wanita itu kemudian tertawa, "kamu tak perlu tahu siapa aku, Laras. Tapi yang jelas, kau punya hutang kesumat!"
"Hutang? Aku tak pernah merasa berhutang padamu! Wajahmu saja kukenal hari ini," sanggah Laras. Wanita itu tertawa lagi dan menoleh ke belakang.
"Kang! Kemarilah! Temui ponakanmu!" seru wanita itu. Dari kegelapan muncul lagi sesosok lelaki yang wajahnya amat dikenal Laras.
"Mamang Sungkai?" desis Laras kaget mengenali wajah lelaki itu.