Sulastri Puspawicitra berkali-kali menautkan alisnya saat nomor yang dihubungi tidak memberikan respon apapun. Jilbaber itu menatapi suaminya yang sementara sibuk mengemudikan kendaraan.
"Ta, kok Laras nggak menjawab ya?" tukas Lastri.
Parta menoleh sejenak ke istrinya kemudian menyetir lagi, "mungkin dia sibuk," jawab lelaki itu sekenanya. Jilbaber itu mengangkat alisnya.
"Sibuk?" gumam Laras.
Parta mengangguk, "kita nggak tahu kesibukan orang lain seperti apa. Nanti sajalah, begitu tiba di Malang, kita singgah di Mertojoyo."
"Iya deh," sahut Lastri mengalah dan menyandarkan kepalanya di jok. Toyota Kijang Innova meluncur cepat di rute Selatan yang menghubungkan kota-kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Perjalanan sejauh 950 Km itu dinikmati pasangan suami istri itu dengan santai. Mereka singgah sejenak di Semarang untuk mengisi bahan bakar dan beristirahat.
"Ta," celetuk Lastri, menyantap sebatang lumpia.
Parta yang mengamati para pengunjung Pasar Gang Baru, sambil menikmati sekerat roti Ganjel Rel lalu menatap istrinya.
"Aku nggak terlalu suka sama pengusaha itu," ungkap Lastri ditengah asyiknya mengunyah makanan. Parta tersenyum.
"Bakat fisiognomi otodidakmu harus dibuktikan secara ilmiah," ledek Parta sambil menggelengkan kepala beberapa kali dan kembali menikmati roti cokelat berselai kayu manis bertabur wijen dalam genggamannya.
"Kau melihat senyum hambarnya?" pancing Lastri.
"Aku tak terlalu memperhatikan," kelit Parta.
"Ta, Aku melihat ketidakjujuran dari senyumnya itu," ungkap Lastri memicingkan mata, sembari mencomot sebiji lumpia lagi. Jilbaber itu mengunyah jajanan itu sambil menentang tatapan suaminya.
"Jika kamu meragukan kejujuran lelaki itu," tukas Parta sembari menelan sisa terakhir roti setelah itu menyambung, "sama halnya dengan kamu menyangsikan kredibilitas Laras, dong."
"Ada baiknya, kita tanyakan saja langsung pada Laras perihal daftar pemilik lahan itu, selain dia. Dengan begitu, kita bisa tahu apakah Pak Galih itu benar-benar jujur atau nggak," usul Lastri.
"Idemu bagus. Tapi ada baiknya hal ini kalian bicarakan saja berdua," timpal Parta.
Lastri manggut-manggut. Keduanya kembali menikmati kuliner jajanan pasar itu dan memutuskan melanjutkan perjalanan setelah kesegaran tubuh mereka pulih. Perjalanan selama 15 jam itu memang mengikis stamina pasangan suami istri itu. Lastri menghubungi nomor rumahnya. Dengungan terdengar dari pelantang gawai komunikasi tersebut. Tak lama kemudian terdengar suara balasan.
"Halo, Ya, Nyaaa..." sapa suara perempuan parobaya diseberang.
"Mbok Narsih, Galuh ada disana?" tanya Lastri.
"Oh, tunggu sebentar, Nya..." sahut Mbok Narsih. Beberapa saat tiada suara terdengar sampai akhirnya suara Galuh kemudian muncul.