PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #9

PESAN TERAKHIR DI BALIK GUNUNG

Toyota Kijang Innova itu tiba di kawasan Mertojoyo dan langsung meluncur ke kediaman yang ditinggali Laras Prabatmi. Mobil itu berhenti disisi jalan dan keluarlah Lastri disusul oleh Parta, menyeberangi jalan dan memasuki halaman. Keduanya tiba di teras dan jilbaber itu langsung menyerukan salam.

"Assalam alaikum," seru Lastri. Belum ada sahutan dari dalam rumah sehingga jilbaber itu kembali menyerukan salam.

"Wa alaikum salaaam," seru suara perempuan dari dalam rumah. Parta dan Lastri saling tatap melempar senyum. Dari dalam keluarlah seorang wanita parobaya, namun usianya belum terlanjur renta, sekitar 48 Tahun.

"Ya, ada yang bisa dibantu?" tanya wanita itu, yang tak lain adalah Dian Pramesti.

"Eh, Bu. Laras ada?" tanya Lastri, mengulas senyum santun.

"Kalian siapa ya?" tanya Dian Pramesti menatapi pasangan suami istri itu. Sejenak keduanya saling tatap. Lastri menatapi wanita itu.

"Kami sahabatnya Laras, Bu," jawab Lastri.

Dian Pramesti kicep sejenak menatapi kedua tamu itu bergantian, membuat pasangan suami itu menjadi canggung. Tak lama kemudian senyum tulusnya terulas.

"Masuk dulu," ajak Dian Pramesti mempersilahkan tamu itu masuk. Ketiganya memasuki ruang tamu, "sebentar ya? Saya suguhkan minuman."

"Nggak usah, Bu," tolak Lastri halus membuat Dian Pramesti menahan langkah dan akhirnya memilih mempersilahkan pasangan suami-istri itu duduk. Pemilik rumah kemudian duduk diseberang menatap tamunya.

"Larasnya, ada Bu?" tanya Lastri kembali.

"Waaah... Larasnya lagi mudik ke kampungnya," jawab Dian Pramesti.

Lastri menatap suaminya sejenak kemudian memandang pemilik rumah, "bisa kami tahu dimana kampungnya?"

"Kenapa ya? Ada yang penting?" tanya Dian Pramesti sedikit curiga.

"Nggak penting-penting juga sih, Bu. Tapi, kami hanya ingin menyampaikan terima kasih pada Laras karena sudah membantu suami saya mendapatkan rekan bisnis yang baru," jawab Lastri, mengulas senyum.

Dian Pramesti manggut-manggut dengan mulut membulat. Setelah menarik napas sejenak, wanita parobaya itu mengujar, "Laras lagi pulang untuk urusan yang agak penting. Pulangnya juga nggak tentu."

"Wah, gimana?" desis Parta, menyentuh lengan istrinya.

"Sejak kapan kalian kenal Laras?" tanya Dian Pramesti lagi.

"Beberapa hari lalu. Saya pertamakali ketemu Laras saat kami di area Food Court Mall Dinoyo," jawab Lastri kemudian mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, "bisa berikan alamat kampungnya, Bu. Pleeeeaseeee..." pinta jilbaber itu memelas.

Dian Pramesti tersenyum melihat tingkah Lastri, "wah... agaknya dia menemukan sahabat yang baik ya?" komentarnya manggut-manggut.

"Sahabat baik? Memangnya Laras nggak punya kenalan disini?" tukas Parta, heran.

"Orangnya cenderung tertutup, tapi sebenarnya ramah jika sudah berinteraksi," tutur Dian Pramesti menatap pasangan suami-istri itu kemudian mengulas senyum, "terima kasih, telah menjalin persahabatan dengannya."

"Sama-sama, Bu." Sahut Lastri.

Dian Pramesti menghela sejenak napas kemudian berkata, "kampungnya di Dukuh Kinasih diapit oleh Pegunungan Goro-Goro dan Udarati," ungkap wanita parobaya itu. Parta manggut-manggut tersenyum. Lastri sejenak melirik suaminya dan senyum penuh maknanya pun terbit pula. Jilbaber itu kemudian menatap Dian Pramesti.

Lihat selengkapnya