"Jadi Galuh nggak boleh ikut ya?" rajuk anak perempuan itu saat melihat ibunya merapikan beberapa pakaian dalam kopor. Lastri menoleh menatap Galuh lalu mengembangkan senyum.
"Sorry ya? Tapi ini perjalanan bisnis, Sayang," kilah Lastri kemudian menutup kopor itu dan menegakkan tubuhnya. Jilbaber itu kemudian menatap putrinya, "nanti sepulang dari sini, Mama janji kita akan berlibur di villa, akhir pekan. Gimana?"
"Beneran Ma?" tuntut Galuh membulatkan matanya, gembira. Lastri mengangguk kemudian membelai rambut putrinya. Gadis belia itu menyambung, "Tante Laras diajak juga?"
Lastri terdiam sejenak kemudian mengulas senyum tetap membelai rambut Galuh dan bertanya, "kenapa ajak Tante Laras?"
"Ya supaya seru Ma!" jawab Galuh, spontan.
"Kamu senang kalau Tante Laras ikut kita ke villa?" pancing Lastri.
Galuh mengangguk-angguk mantap sambil menyengir. Lastri akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengangkat kopor itu keluar dari kamar. Diruang tengah, berdiri asisten rumah tangga mereka, seorang wanita yang agak renta.
"Bok, semuanya sudah siap?" tanya Lastri.
"Cak Parta sudah menunggu diteras, Nya. Ada Bos Lin juga, sama istrinya," jawab nenek itu membungkuk santun. Lastri mengangguk dan mengajak putrinya ke teras. Disana memang sudah menunggu Parta bersama Lin dan istrinya, Siu Lan.
"Hai ponakanku," sapa Lin.
"Om Lin, Tante Lan," sapa Galuh, santun. Siu Lan mendekati anak perempuan itu.
"Siap mengikuti petualangan, Mui-mui?" pancing Siu Lan membulatkan mata sipitnya. Galuh tertawa dan mengangguk mantap kemudian menatap ibunya.
"Jangan lupa jadwal kelas panahannya, ya Bos?" pesan Parta.
"Tenang saja, Bro! Serahkan padaku," sahut Lin, tersenyum.
"Ah, sudah lama juga Mui-Mui nggak main sama Sulaikha. Pasti seru kalau outbond di Penanggungan nanti," timpal Siu Lan menyebut nama putrinya.
Lin menampar lengan Parta, "kamu lekaslah susul kolega bisnis kita. Biar urusan ke Ligaran, kuserahkan pada orang lain," perintahnya.
"Siap, Bos. Kami berangkat," seru Parta sembari melihat istrinya yang membuka pintu belakang dan menyorongkan kopor ke dalam bagasi. Lelaki itu kembali menatap putrinya.
"Galuh, ingat. Selama tinggal dengan Om Lin, nggak boleh nakal ya?" pesan Parta lagi.
"Wooo lambemu! Mana ada anakmu nakal? Kamu tuh yang nakal! Tahu nggak?" sahut Siu Lan membuat Parta kicep, melengos ke arah Lastri yang mengumbar tawanya. Jilbaber itu balas menatap suaminya.
Parta menghela napas sejenak dan mengulas senyum canggung pada Siu Lan. Perempuan tionghoa itu hanya mengangguk. Parta kemudian melakukan highfive khas dengan Lin lalu menyusul Lastri yang sudah masuk duluan ke dalam mobil. Lelaki itu masuk ke dalam mobil dan semenit kemudian Toyota Kijang Innova itu menderum lalu meluncur keluar dari halaman. Lin dan istrinya melambaikan tangan sejenak sampai kendaraan sahabat mereka itu menghilang dari jalanan.
Galuh memegang lengan Lin, "Om, Galuh ke dalam dulu ya? Mempersiapkan semuanya."
"Oh, oke Mui-mui. Om Tunggu," sahut Lin.
Galuh berlari masuk ke dalam rumah, disusul oleh asisten rumah tangga itu. Sepeninggal anak perempuan itu, Lin menatap istrinya.
"Tadi kamu bilang si Parta itu nakal, kenapa sih?" tegur Lin.