Matahari bersinar benderang tepat di atas ubun-ubun. Di balik kemudi, pasangan suami-istri itu meninggalkan hiruk-pikuk Kota Malang yang hangat dan padat. Deru mesin dan sisa-sisa aroma kopi dari sudut-sudut jalanan kota tua mengiringi langkah pertama, seolah menjadi saksi bisu dari sebuah pelarian singkat menuju ketenangan. Perjalanan yang memakan waktu setengah jam bisa berjalan lancar jika lalu lintas berjalan normal sebagaimana biasa.
Lastri menikmati pemandangan sambil sesekali melirik kearah suaminya yang memegang setir kemudi. Jilbaber itu tersenyum-senyum sendiri. Dari sudut periperalnya, Parta menyadari hal itu dan membalas senyuman istrinya yang penuh makna itu dengan senyum masam.
"Hm... ada maksudnya nih," celetuk Parta, tetap memusatkan perhatiannya ke jalan.
"Ih, apaan? Orang senang lihat pemandangan juga," kelit Lastri kembali bersenandung pelan.
"Kalau punya ganjalan itu, jangan dipendam," tegur Parta lagi.
Lastri terkekeh, "iya deh..."
"Nah, apa yang mengganjal dipikiranmu?" tanya Parta.
"Cik Lan bilang kamu tuh nakal," ujar Lastri kemudian mencondong sedikit ke suaminya, "maksudnya apa sih? Emang kamu pernah nakalin dia?"
Parta langsung menelan saliva. Insiden masturbasi didepan istri Lucas Lin Kinnamon itu terbayang lagi. Ingatan perihal dirinya yang tanpa sengaja menorehkan ujung kelaminnya, menggesek bagian atas gua kewanitaan Siu Lan ketika melepaskan hasrat birahinya menyebabkan air kama itu muncrat kemana-mana dan sebagiannya menyemprot ke bibir farji perempuan itu lalu mengalir masuk menghilang dalam celah intim istri sahabatnya itu.
"Eh, kok diam?" tukas Lastri lalu tersenyum lagi, "waaaahhh... kayaknya ada yang lagi birahi, niiiih," sindirnya.
"Apaan sih? Nggak!" elak Parta berupaya tenang, meski bayangan tentang syahwatnya yang masih menggeliat saat menjilati dan mengecup pentil susu Siu Lan kemudian menyedot bongkah dada amoy itu agak dalam.
"Tapi kok itunya mlendung?" goda Lastri, menyindir lagi.
Parta sejenak menatap ke bawah, ke bagian celana yang memang mengembung. Lelaki itu merutuk jengkel dalam hati dan kembali memusatkan perhatiannya ke depan saat menyetir mobil. Roda-roda Toyota Kijang Innova itu terus berputar, membawa kendaraan melaju pasti ke arah barat. Lastri kembali mengalihkan tatapannya, mengamati hamparan sawah yang hijau dan aliran sungai. Hembusan angin terasa lebih segar, seolah mencuci penat dengan aroma khas pegunungan.
"Sudah kubilang, jangan berpikiran macam-macam tentang suamimu," tegur Parta mengingatkan istrinya.
"Aku kan hanya kepikiran dengan perkataan Cik Lan tadi," tangkis Lastri terus menatap jalanan, "makanya aku nanya," sambungnya lalu menatapi Parta, "tapi kamu nggak nakalin Cik Lan, kan?"