Parta terdiam mendengar penuturan penjaga depot. Lelaki itu menghela napas dan kembali mencecar, "peristiwa apa?"
Penjaga depot itu mengangguk mantap lalu menutur. "dulu, tujuh puluh lima tahun lalu. Gunung Goro-Goro melampiaskan amarahnya dengan muntahan ladhu dan wedhi gembel. Keseluruhan Watu Karang ini terkena leleran lahar, berkenaan dengan wafatnya kuncen Goro-Goro sekaligus podo Dukuh Kinasih. Pemandangan langit saat itu dipenuhi mega abang," tutur penjaga depot itu menerawang.
Lastri yang merasa bosan dalam mobil, mendengar kisah yang dituturkan penjaga depot itu membuat rasa penasarannya muncul. Jilbaber itu keluar dari Toyota Kijang Innova itu dan menghampiri suaminya.
"Ada apa Ta?" tanya Lastri. Parta hanya menatap istrinya, tanpa berkomentar.
Penjaga depot itu menatap jilbaber yang muncul disisi Parta kemudian menjawab, "oh, mas ini tertarik dengan kisah kelam tujuh puluh tahun silam mengenai Dukuh Kinasih."
"Wah, menarik tuh," sambut Lastri kemudian mencecar, "teruskan ceritanya, Pak."
Penjaga depot itu mengangguk lalu menyambung ceritanya, "sebelum wafat, Ki Ageng Suryodirejo meramalkan, akan muncul seorang lelaki berweton Selasa Pahing yang akan menggantikan tugasnya menjaga Kawah Melir di Puncak Goro-Goro."
"Wah, makin menarik," komentar Lastri lagi.
Seperti seorang dalang yang mendapatkan respon penonton, penjaga depot itu bercerita lagi lebih semangat, "masalahnya, lelaki berweton Selasa Pahing itu dibunuh saat mengunjungi Dukuh Kinasih. Kabarnya sih... lelaki itu adalah kekasih dari putri kepala kampung saat itu, Raden Arya Prabu Candranegara yang telah dijodohkan sejak kecil dengan putra seorang pengusaha kaya dari luar Watu Karang."
"Kenapa dia dibunuh? Bukankah itu justru membuka peluang terjadinya bencana?" tukas Lastri menautkan alisnya. Penjaga depot itu mengangguk.
"Iya! Ketika malam pernikahan, si pengantin wanita melarikan diri bersama kekasihnya menuju Kawah Melir. Disana, kedua kekasih itu dibunuh oleh pengantin pria yang merasa terkhianati," jawab penjaga depot itu.
"Apa yang terjadi setelah itu?" cecar Parta ikut-ikutan penasaran.
"Senja kemudian, langit dipenuhi mega abang ditambah angin lesus dan bledek yang menangkup puncak Gunung Goro-Goro," jawab penjaga depot.
"Hm... kalau nggak salah, itu tanggal 13 Desember 2021," ungkap Parta, menebak.
"Oh, yang kejadian waktu itu?" tukas Lastri, menatap suaminya dengan mata membulat. Parta mengangguk lalu memancing.
"Tiga hari kemudian, gempa berkekuatan 5,1 Skala Ritcher mengguncang Malang dan sekitarnya. Begitu, kan?" tebak Parta.
"Hah! Benar Pak!" seru penjaga depot itu membenarkan.
"Hm... itu terjadi pada 16 Desember 2021 silam," sambung Parta kemudian menatap istrinya, "agaknya itu yang memicu sikap prejudice para warga di sepanjang Talang Geni sampai Dukuh Kinasih."
"Kayaknya mereka menderita penyakit xenofobia yang parah sampai-sampai memusuhi para pendatang asing," sahut Lastri, prihatin.