PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #13

LANGKAH EMPATI DI LERENG API


Parta menurunkan kaca jendela lalu melongokkan kepala keluar, menatapi beberapa warga yang mengurung mobilnya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" sapa Parta, ramah.

Salah satu warga melambaikan tangan, mengisyaratkan lelaki dalam Toyota Kijang Innova itu agar sudi keluar dan menemui mereka. Parta sejenak menatap Lastri.

"Tenang, jangan takut. Di laci dasbor, ada pistol. Gunakan ketika suasana menjadi tidak kondusif," pesannya.

Lastri hanya manggut-manggut berupaya menenangkan dirinya, meski raut cemas tetap saja terpancar, mengingat kalimat peringatan yang sempat dilontarkan penjaga depot perihal sikap curiga yang dinampakkan warga sekitar dua desa terhadap keberadaan orang asing.

Parta kemudian meraih gagang dan memutarnya membuat pintu mobil menguak. Lelaki itu keluar dan mendatangi para warga yang mulai melebarkan kepungannya. Di tengah keheningan hutan yang berbisik, kabut tipis turun perlahan, memeluk pepohonan purba yang menjadi saksi bisu pertemuan mereka.

Parta mengamati para lelaki itu. Kebanyakan warga itu menggenggam kapak dan parang yang mengindikasikan bahwa para pencegat ini bukanlah jagawana yang melakukan penyamaran untuk menyergap para pembalak liar. Mungkin saja, mereka ini merupakan sekelompok pengalasan yang mengawasi para blandong yang melakukan rutinitas mereka di hutan tersebut.

Pimpinan dari para lelaki itu—sosok arif berwajah teduh yang menyatu dengan akar dan lumut, menatap Parta dan menyapa, "sugeng sonten, ngger."

Parta membungkuk santun membalas sapaan lelaki itu. Dia memperkenalkan diri sebagai Ki Argya Resik dari Punca Birat, desa yang baru saja ditinggalkan sepasang laki-bini itu saat memasuki hutan cagar alam.

"Kalau boleh tahu, sampeyan kabeh ini dari mana, dan mau kemana?" tanya Ki Argya Resik.

"Saya, Partawijaya Dananjati dari Kota Malang, dan itu istri saya, Sulastri Puspawicitra," ujar Parta memperkenalkan diri sekaligus menunjuk Lastri yang meringkuk di jok depan mobil, "kedatangan kami bukan untuk merusak apapun yang ada disini."

"Ki Argya menanyakan arah tujuanmu," tegur salah satu warga yang memegang kapak. Lelaki itu ditenangkan oleh Ki Argya Resik yang kemudian kembali menatap Parta dalam sedalam mata air pegunungan.

"Kami mau menemui sahabat kami di Dukuh Kinasih," sambung Parta.

"Dukuh Kinasih?" gumam Ki Argya Resik kemudian menatapi beberapa rekannya, setelah itu menatapi lelaki berpenampilan rapi dihadapannya, "setahuku, warga Dukuh Kinasih tidak pernah meninggalkan kampungnya. Itu tradisi yang berlaku sejak jaman dulu."

Parta tersenyum dan menekur sambil manggut-manggut sejenak kemudian mengangkat wajahnya kembali, memandang pimpinan para pangalasan itu.

"Sebutkan namanya! Siapa tahu kami kenal," sahut salah satu warga lagi. Parta menatap si penyahut itu.

"Laras Prabatmi," jawab Parta.

Mata Ki Argya Resik melebar mendengar nama yang disebutkan Parta. Keterkejutan yang samar itu tidak luput dari pengawasan Parta.

Lihat selengkapnya