
Serombongan anak-anak mengerubuti Toyota Kijang Innova yang memasuki kampung itu. Wajarlah, mana ada kendaraan moderen disini selain mobil bernomor mesin M20A-FKS yang dikemudian Parta? Lelaki itu menurunkan kaca mobil dan menyapa anak-anak itu.
"Tahu nggak rumahnya Bu Laras?" tanya Parta.
"Laras mana, Om?" balas salah satu anak.
"Laras Prabatmi," jawab Parta.
"Oh, di rumah Joglo, Om. nggak jauh lagi," balas anak itu.
Parta langsung menghadiahi anak-anak itu dua lembar uang fiat bernominal dua puluh ribuan. Rombongan itu langsung bubar berkejar-kejaran sambil melambai-lambai lembaran hijau dijemari mereka seperti helai bendera kertas yang berkibar-kibar.
Parta menginjak pedal gas lagi melajukan kendaraannya ke depan. Sejurus kemudian, nampak sebuah hunian tradisional berdiri di pekarangan yang amat luas. Sebuah bangunan beratap joglo mempertontonkan keanggunannya.
Kendaraan generasi terbaru pabrikan TMMIN[1] Kerawang itu berhenti disisi jalan pada pagar hidup dari jenis tanaman mangkokan. Disudut kanan pagar itu nampak sebatang pohon Mangifera lalidjiwa yang masih belia, belum sama sekali berbuah.
Seorang perempuan muda keluar saat mendengar derum mesin mobil didepan huniannya, bertepatan dengan keluarnya Lastri dan Parta dari kendaraan itu. Sejenak pemilik rumah itu tertegun menyadari siapa tamu yang menyambanginya. Adapun pasangan suami-istri itupun sama tertegunnya menatapi penampilan pemilik rumah itu.
"Mbakyu Lastri," gumam Laras Prabatmi.
"Laras..." balas Lastri.
Parta sejenak bengong menatapi penampilan Laras Prabatmi yang amat berbeda, dibandingkan kesehariannya saat di Mertojoyo. Rambutnya yang pendek tersembunyi dalam sanggul gaya cepol berhias sirkam dibagian atasnya sedang tiga batang cunduk mentul Puspa Pesona menancap disanggul itu. Tubuhnya yang langsing proporsional itu dibalut kebaya sederhana dan jarik sepanjang mata kaki. Leher jenjangnya dilingkari kalung berliontin kerawang.
"Duh, mentang-mentang di rumah sendiri, nggak mau menyambutku?" sindir Lastri berlagak melengos. Laras tersadar dan segera mendekat kemudian memeluk jilbaber didepannya.
"Mbakyu..." desahnya lirih. Lastri tersenyum membalas pelukan wanita itu.
"Kamu cantik sekali! Persis sekar kedaton," puji Lastri mengamati penampilan Laras.
"Ah, Mbakyu bisa saja," tangkis Laras tersipu-sipu, menampar lengan jilbaber itu. Lastri menoleh kepada suaminya.
"Ta! Sini! Ih, bengong saja! Mentang-mentang lihat perempuan cantik," sindir Lastri.
Parta gelagapan kaget dan melangkah canggung mendekati kedua wanita berbeda penampilan itu. Senyumnya tersungging.
"Hai," sapa Parta, canggung.
"Hai," balas Laras lirih kemudian menatap Lastri, "mari masuk, Mbakyu." ajaknya lalu menatap Parta, "Mas, mobilnya diparkirkan di dalam halaman saja."
"Oh oke," sahut Parta langsung berbalik kembali ke sisi jalan menuju kendaraannya yang terparkir disana. Lelaki itu menyalakan mesin kemudian mengarahkan mobilnya memasuki pelataran dan parkir disisi bagian kanan yang berhadapan dengan pintu seketheng. Laras mengajak jilbaber itu menyeberangi pendopo yang dipenuhi seperangkat kursi-kursi panjang yang sandarannya diukir motif sulur dan meja panjang dan tiba pringgitan.[2]
"Mbakyu tahu alamat sini, dari mana?" tanya Laras saat keduanya duduk di kursi berkerangka rotan alami.
"Bu Dian yang memberitahu kami," jawab Lastri sejenak celigukan mengagumi lukisan dan beberapa ornamen hiasan yang menempel dinding, "kamu tinggal sendirian disini?"