
"Ini kamar kalian," ujar Laras, membuka pintu salah satu bilik di gandhok bagian kanan. Lastri kemudian masuk, diikuti oleh Laras. Jilbaber itu mengamati interior kamar itu. Satu set ranjang gaya trundle bersandar di dinding. Disisi ranjang itu, ada meja nakas dimana bertengger lampu tidur berbahan dasar keramik bermotif mawar. Di sudut ruangan lain terdapat storage bench[1] yang bisa difungsikan sebagai lemari pakaian.
"Bagaimana?" pancing Laras.
Lastri berbalik menatap pemilik rumah itu sambil mengulas senyum memelas, "aduh, sudah sangat merepotkanmu nih."
Laras tersenyum dan menekur sejenak setelah itu mengangkat wajahnya lagi, "pokoknya selama Mbakyu dan Mas Parta disini, tugas saya adalah melayani kalian."
Lastri tanggap dan maju selangkah lalu mencondongkan bibirnya di telinga Laras, "termasuk..." bisik jilbaber itu sengaja menggantung kalimatnya lalu menarik kepalanya sambil menyengir lebar. Laras langsung mengikik lirih saat jilbaber tersebut memperlihatkan pola isyarat jemari yang mengisyaratkan lambang bersetubuh sambil sepasang matanya melirik ke arah pintu.
"Dih, Mbakyuuuu..." sergah laras, lirih tersipu-sipu lalu menampar lengan jilbaber itu, gemas dan kedua perempuan itu lalu terkikik-kikik bersama. Setelah memindahkan pakaian dan peralatan lainnya di rak bawah kursi, keduanya keluar menemui Parta yang duduk santai di kursi kayu ukir klasik bermotif Jepara yang berada di selasar.
"Mas Parta," panggil Laras, membuat lelaki itu mendongak memandang wanita itu, "monggo ngaso, Mas." ujarnya mempersilahkan dengan lembut.
Parta hanya tersenyum dan mengangguk. Laras kemudian pamit dan melangkah memasuki pintu samping omah jero. Lelaki itu menghela napas dan bangkit kemudian masuk ke bilik disusul oleh istrinya. Parta menyalakan lampu robyong kemudian mendekat ke ranjang.
"Ta, kok jutek sih?" tegur Lastri melihat suaminya yang duduk disisi pembaringan, menekuk wajah cemberutnya menekuri lantai. Jilbaber itu kemudian menyadari kesalahannya lalu mendekat dan duduk disamping Parta, "aduh, maaf... aku keterlaluan ya?"
Parta menatap istrinya, "semestinya, kamu jangan menelanjangiku didepan Laras, Tri." tegur lelaki itu, membuat Lastri menarik senyum tipis diiringi dengan kontak mata yang cepat lalu menekuri lantai.
"Enthlah, Ta," kata Lastri, sejenak kemudian mengangkat bahunya. Jilbaber itu kemudian mendongak menerawangi plafon yang digantungi lampu gantung robyong, "kelihatannya aku termakan cemburuku sendiri," sambungnya kemudian terkekeh pelan dan mengalihkan tatapan kembali ke suaminya, "kamu marah?"
Parta gemas mencubit hidung pesek istrinya, "aku malah jadi nggak tega," oloknya lalu tertawa pelan dan setelah itu merengkuh istrinya dan menyandarkan dagunya dikepala jilbaber itu, "aku yang semestinya minta maaf tadi karena terang-terangan bersikap lancang dihadapanmu," ujar lelaki itu kemudian menatap Lastri, "maafkan aku, ya?"
Lastri menatap lekat suaminya. Perlahan senyum tulusnya terbit dan jilbaber itu mengangguk pelan. Parta tersenyum dan mengecup pelan bibir istrinya.
"Inilah yang membuatku nggak pingin nambah pemain cadangan, Tri," ungkap Parta, langsung memancing ledakan tawa istrinya.
"Kalau aku yang mau?" pancing Lastri.