
Di lantai gadri, teras bagian belakang omah jero itu terhampar tikar klasa[1] dimana piring-piring besek berlapis daun jati berisikan olahan Gurame bakar yang diperindah oleh garnish dari daun kubis dan irisan ketimun, Sate Kelinci yang dilumuri bumbu kacang kental, kecap, dan irisan bawang merah. Ada juga baskom dari kayu berisi kuah rawon dan dua centhing besar yang berisi gundukan nasi hangat yang masih mengepulkan uap dan lima buah mangkok kayu berisi sambal yang tertata masing-masing didepan lima orang yang mengelilingi sajian kuliner tersebut.
"Ayo, silahkan. Mboten sah lingsem. Anggap saja rumah sendiri," kata Bu Mintarsih mengulas senyum ramahnya.
Lastri dan Parta sontak mengangguk santun, namun tak berani mendahului sebelum yang empunya rumah memulai kegiatannya. Bu Mintarsih tersenyum dan mengambil piring ingke yang sudah dilapisi kertas minyak kemudian menyendok nasi di bakul dan memindahkan ke piring anyaman rotan tersebut. Kemudian giliran Laras dan Wukiran melakukannya. Sementara Laras dan Parta menyendok nasi dari centhing satunya dan meletakkan gundukan nasih hangat itu ke piring ingke mereka berdua.
"Eh, itu lauknya jangan dianggurin," tegur Bu Mintarsih, membuat sepasang suami-istri itu tersipu dan akhirnya menyendokan masing-masing lauk yang menggeletak di hamparan tikar tersebut.
Kegiatan mangan bengi itu berlangsung akrab dan hangat. Disela-sela menikmati hidangan, terjadi beberapa percakapan diantara mereka.
"Terima kasih telah menjadikan putri kami, sahabat kalian." Celetuk Bu Mintarsih disela nikmatnya mengunyah nasi sambil mencomot sebagian daging Gurame bakar dan mencocolnya pada sambal kemudian melahapnya.
"Justru saya yang bersyukur Jeng Laras mau menerima kami sebagai sahabatnya," kelit Lastri mengulas senyumnya kemudian mengunyah lagi makanannya. Parta manggut-manggut, sambil menyendokkan kuah rawon ke nasi, lelaki itu menyambung perkataan istrinya.
"Kedatangan kami, sebenarnya mau mengungkap rasa terima kasih," sahut Parta sejenak melirik kepada Laras yang menekur malu, kemudian menatap lagi ke arah Bu Mintarsih, "Laras secara tidak langsung, menuntaskan permasalahan yang dihadapi perusahaan kami terkait pasokan logistik kayu."
"Oh, anda seorang pengusaha dibidang perkayuan?" tanya Bu Mintrasih.
"Eee... yaaa... hanya pegawai biasa yang harus memenuhi target demi kelangsungan hidup keluarga," jawab Parta, merendah membuat Bu Mintarsih tersenyum kemudian melirik putrinya sejenak dan kembali meneruskan makannya.
"Beruntung benar kami saat itu. Kalau nggak, pasti suamiku pontang-panting disuruh majikannya melakukan lawatan ke pedalaman hutan Borneo. Wah, nggak maulah saya! bisa-bisa El-De-Er nya jadi lama, bikin saya kena insomnia akut," timpal Lastri.
Bu Mintarsih tertawa mendengar kalimat jujur yang keluar dari mulut jilbaber tersebut. Sementara Laras hanya tersenyum.
"Sebenarnya, lahan produksi kayu hutan di kawasan Ligeran itu adalah milik keluarga besar Kanigoro," ungkap Bu Mintarsih, membuat Parta terdiam sejenak kemudian manggut-manggut. Wanita parobaya itu melanjutkan, "Laras mendapatkan bagiannya dariku sebagai salah satu anggota keluarga tersebut."
"Kupikir, sebagiannya adalah milik Pak Galih Sungkai," celetuk Lastri.
"Bukan. Lelaki itu hanya pengelola. Pemilik sah seluruh areal hutan itu adalah..." ungkap Bu Mintarsih membeberkan beberapa nama anggota Keluarga Kanigoro, termasuk kakak perempuannya yang merupakan istri dari Galih Sungkai, "hutan di Lembur Tumuwun dan beberapa titik di Ligeran adalah tanah perdikan yang dimiliki oleh keluarga saya sejak leluhur pertama diperintah pihak kerajaan sebagai penjaga lokasi itu."
"Kelihatannya, bencana ekologi di pedalaman Sumatera yang terjadi tahun kemarin pastinya membuat banyak perusahaan perkayuan mulai dari hulu hingga ke hilir mengalami goncangan," celetuk Wukiran.
"Itu sudah pasti," sahut Parta.
"Kelangkaan kayu menjadi masalah tersendiri. Bahkan pihak Perhutani Watu Karang telah mengirimkan beberapa personil jagawana untuk berpatroli untuk mencari dan menangkap para pembalak liar yang beraksi di kawasan koservasi lereng Gunung Udarati. Bukan itu saja, beberapa pengalasan dari Punca Birat sekarang menyisir beberapa titik lereng Gunung Goro-Goro untuk menguber para penebang liar yang beraksi dikawasan itu," tutur Wukiran disela sibuknya dia mengunyah makanannya.